Di akhir tulisan itu, saya menyelipkan pertanyaan, apakah Indonesia bisa memimpin peradaban dunia suatu saat nanti? Widih respons netizen, macam kerasukan makan tahu Sumedang, gurih, renyah, pedas. Sekarang saya mau melanjutkan teori itu.
Negara maju itu ibarat masakan besar. Bukan satu menu, tapi satu meja penuh hidangan yang saling melengkapi.
Ekonomi, pendidikan, politik, teknologi, lingkungan, semuanya harus matang bareng. Tidak bisa cuma satu panci yang harum, sementara dapur lain gosong.
Coba kita lihat dapur negara maju. Secara ekonomi, mereka masak bahan berkualitas. Pendapatan per kapitanya di atas 12 ribu dolar AS per tahun.
Artinya, rakyatnya tidak lagi sibuk cari beras, tapi mikir variasi lauk. Pertumbuhan ekonominya stabil, seperti api kecil yang konsisten, bukan kompor meledak-ledak lalu mati.
Industri dan jasa jadi menu utama, bukan cuma bahan mentah yang dijual mentah-mentah seperti singkong tanpa diolah.
Pengangguran dijaga rendah. Semua kebagian kerja, seperti dapur profesional. Ada yang motong, ada yang masak, ada yang nyaji. Tidak ada yang cuma mondar-mandir sambil pegang HP nunggu viral.
Dari sisi sosial, negara maju itu masakannya menyehatkan. Harapan hidup di atas 75 tahun. Orang tidak takut ke rumah sakit seperti mau undian maut.
Pendidikan pun bukan sekadar hafalan resep lama, tapi belajar mencipta menu baru. IPM di atas 0,8 itu tanda dapur berjalan baik, gizinya masuk, otaknya jalan.
Politiknya ibarat kepala dapur. Tidak harus suci, tapi tahu rasa. Korupsi mungkin masih ada, tapi tidak bikin masakan basi.
Aturan jelas, tanggung jawab ada, dan dapur tidak ribut sendiri sampai lupa melayani tamu.
Teknologi? Ini pisau tajamnya. Negara maju tidak cuma beli alat dapur dari luar, tapi bisa menempa sendiri.
Mereka ekspor resep, bukan cuma jadi pembeli. Lingkungan juga dijaga. Karena dapur yang kotor akan meracuni semua masakan, cepat atau lambat.
Sekarang kita tengok dapur Indonesia.
Bahan kita melimpah. Rempahnya lengkap. Pasarnya besar. Bonus demografi sudah siap seperti beras di karung.
Tapi masalah kita klasik. Tukang masaknya sering ribut, kepala dapurnya sibuk bagi jatah, dan apinya suka tidak stabil.
Bonus demografi bisa jadi rendang empuk, bisa juga jadi nasi basi. Tergantung dimasak atau dibiarkan.
Sumber daya alam bisa jadi hidangan bernilai tinggi, atau cuma dijual mentah seperti ikan segar yang tidak pernah jadi gulai.
Toynbee akan bilang, di sinilah peradaban diuji. Apakah minoritas kreatif kita benar-benar memasak, atau cuma sibuk mencicipi sambil lupa mengaduk?
Pertumbuhan ekonomi lima persen itu seperti api sedang. Cukup, tapi rawan padam kalau angin global datang.
Ketergantungan pada komoditas masih tinggi. Industrialisasi setengah matang. Lingkungan sering dikorbankan demi cepat kenyang, bukan makan sehat.
So, apakah Indonesia bisa menjadi negara maju?
Bisa. Sangat bisa. Resepnya ada. Bahannya lengkap. Tapi syaratnya satu, berhenti masak asal-asalan.
Harus sabar, disiplin, dan konsisten. Tidak bisa tiap ganti koki, ganti resep. Tidak bisa berharap masakan matang kalau apinya cuma dinyalakan pas ada tamu.
Toynbee sudah mengingatkan, peradaban tidak mati karena kelaparan bahan, tapi karena salah mengolah.
Kalau kita gagal, Indonesia tidak akan jatuh karena diserang bangsa lain. Kita akan jatuh karena dapurnya kacau, masakannya basi, dan kita tetap maksa menyajikannya dengan bangga.
Dalam sejarah, tidak ada yang lebih menyedihkan dari negeri kaya rempah, tapi gagal memasak masa depannya sendiri.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar
BERITA TERKAIT: