Jejak Hubungan Indonesia-Uzbekistan dari Jalur Sutra, Wali Songo, hingga Makam Imam Bukhari

Selasa, 10 Maret 2026, 22:49 WIB
Jejak Hubungan Indonesia-Uzbekistan dari Jalur Sutra, Wali Songo, hingga Makam Imam Bukhari
Ilustrasi perdagangan Indonesia-Uzbekistan. (Foto: artificial intelligence)
HUBUNGAN antara Indonesia dan Uzbekistan merupakan salah satu benang merah paling menarik dalam sejarah peradaban Islam. Jauh sebelum saluran diplomatik formal ada, kedua negara ini terhubung melalui Jalur Sutra kuno, bukan hanya sebagai jalur perdagangan tetapi juga sebagai saluran untuk penyebaran dakwah, pertukaran ilmiah dan kebudayaan.

Keterkaitan historis ini terwujud paling jelas dalam hubungan silsilah antara ulama Asia Tengah dan Wali Songo, sembilan orang suci yang dihormati dan berjasa menyebarkan Islam di seluruh Jawa.
 
Tokoh sentral dalam narasi ini adalah Maulana Ibrahim Asmoroqondi juga dikenal sebagai Syeikh Ibrahim as-Samarqandi, yang namanya menunjukkan asal-usulnya di Samarkand salah satu kota tertua di Uzbekistan.

Seperti yang dicatat oleh cendekiawan Usarov Sirojiddin Rakhmatullaevich, “Penyebaran Islam ke kepulauan Indonesia sangat dipengaruhi oleh ulama Asia Tengah yang melakukan perjalanan di sepanjang jaringan perdagangan Jalur Sutra” (Rakhmatullaevich, 2025).
 
Catatan sejarah menunjukkan bahwa Ibrahim Asmoroqondi melakukan perjalanan dari Samarkand ke Kerajaan Champa sebelum tiba di Tanah jawa pada akhir abad ke-14. Di sana ia menikahi Dewi Candrawulan, saudara perempuan Raja Champa, dan memiliki putra Raden Rahmatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel, salah satu Wali Songo yang paling berpengaruh.

Melalui Sunan Ampel, garis keturunan berlanjut ke Sunan Bonang dan Sunan Drajat yang menjadikan Syekh Asmoroqondi sebagai leluhur Wali Songo yang secara fundamental membentuk Islam Jawa.
 
Hubungan ini menunjukkan bagaimana tradisi intelektual Asia Tengah yang dibentuk oleh para ulama seperti Imam Bukhari, Imam Tirmidzi dan Imam Maturidi, menemukan lahan subur di kepulauan Nusantara.

Profesor B.B. Jakhongirov menekankan bahwa para ulama ini menciptakan landasan epistemologis bersama yang kemudian akan memfasilitasi keterlibatan budaya dan diplomasi yang lebih dalam antara kedua negara (Jakhongirov, 2025).
 
Jalur Sutra sebagai Penghubung Nusantara

Uzbekistan merupakan pusat krusial Jalur Sutra yang menghubungkan Asia Tengah dengan Nusantara melalui jaringan perdagangan bertukar sutra, rempah, budaya dan ilmu pengetahuan.

Uzbekistan memiliki Samarkand, salah satu kota bersejarah dan tertua di dunia yang merupakan pusat ilmu pengetahuan dan arsitektur Islam yang megah seperti Registan Square sekaligus rute perdagangan global terbesar pada masanya yang dikenal sebagai “Mutiara Jalur Sutra”.
 
Kemudian terdapat kota Bukhara sebagai tempat kelahiran ahli hadits terbesar di dunia Islam yaitu Imam Bukhari, Bukhara juga merupakan kota kuno yang menjadi jalur transit perdagangan antara Timur dan Barat yang mempertahankan suasana pasar karavan di abad pertengahan.

Selain itu terdapat kota Khiva, sebuah museum terbuka yang menampilkan arsitektur benteng gurun yang masih utuh.
 
Kota-kota bersejarah tersebut menjadi titik singgah penting yang menghubungkan Nusantara ke Timur Tengah, Tiongkok dan Eropa, meninggalkan warisan peradaban yang kaya. 

inggungan tersebut menjadi pertemuan Jalur Sutra dan Jalur Rempah dimana komoditas rempah-rempah Nusantara mengalir ke pasar-pasar di Samarkand dan Bukhara, sementara sutra dan ilmu pengetahuan dari Asia Tengah mencapai kepulauan Nusantara.
 
Dinasti Timuriyah yang didirikan oleh Amir Timur Lenk (1370-1405) mewakili puncak perkembangan budaya ini. Wilayah kekuasaannya yang berpusat di Samarkand meliputi Transoxiana, Khorasan, Iran, Irak, Afghanistan, Pakistan, Rusia Selatan, Kaukasus hingga India Utara.

Kekaisaran Timuriyah ini membentang dari perbatasan Tiongkok hingga Laut Mediterania. Menurut New York Times (1974), Timur mengumpulkan seniman dan pengrajin terbaik dari kerajaannya yang besar untuk menciptakan mahakarya arsitektur.

Mausoleumnya Gur-e-Amir, memiliki kubah berusuk berwarna biru langit yang menjadi tempat ziarah bagi umat Muslim dan bahkan pengunjung era Soviet. Warisan arsitektur ini yang memadukan pengaruh dari Persia, India, dan Mesopotamia menjadi bukti karakter kosmopolitan peradaban Asia Tengah.
 
Bung Karno dan Penemuan Makam Imam Bukhari

Babak paling dramatis dalam hubungan Indonesia-Uzbekistan terjadi pada tahun 1956, ketika Presiden Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet. Soekarno setuju menerima undangan Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Khrushchev, hanya setelah mendapatkan komitmen untuk menemukan dan memulihkan makam Imam Bukhari (Zamzami, 2019).

Pengumpul hadits terkenal abad ke-9 yang kompilasi Sahih Bukhari-nya dianggap oleh Muslim Sunni sebagai kitab paling otentik setelah Al-Quran tersebut memiliki makna pribadi yang mendalam bagi Presiden Indonesia.
 
Otoritas Soviet Uzbekistan menemukan makan tersebut di desa Hartang sekitar 30 kilometer dari Samarkand, yang telah terbengkalai selama beberapa dekade pemerintahan Soviet.

Seperti yang dicatat oleh peneliti Ahmad Zamzami, “Penemuan dan pemugaran makam Imam Bukhari merupakan pergeseran signifikan dalam kebijakan Soviet terhadap warisan Islam, yang sebagian besar didorong oleh pertimbangan diplomatik Perang Dingin dan pentingnya strategis Indonesia” (Zamzami, 2019).

Jurnalis A.P. Anggoro mencatat bahwa otoritas Soviet harus membersihkan semak belukar yang telah menutupi situs makam sebelum kedatangan Soekarno (Anggoro, 2024).
 
Ketika Soekarno tiba pada September 1956, upacara penghormatannya meninggalkan kesan yang mendalam. Kunjungan tersebut diliput secara luas di media Uzbekistan dengan sambutan hangat yang diberikan kepada delegasi Indonesia.

Menurut Pusat Penelitian Organisasi Kerja Sama Islam, Presiden Indonesia melakukan ritual ziarah tradisional dengan penuh pengabdian, disaksikan oleh masyarakat Muslim Uzbekistan yang telah lama kehilangan kebebasan ekspresi keagamaan di bawah pemerintahan Soviet (IRCICA, 2018).

Anggoro mencatat bahwa penduduk setempat masih mengingat bagaimana Soekarno melepas sepatunya dan berjalan tanpa alas kaki menuju makam (Anggoro, 2024).
 
Seperti yang didokumentasikan oleh Pusat Penelitian Imam Bukhari Internasional, intervensi Soekarno memicu pembukaan kembali situs-situs warisan Islam di Uzbekistan Soviet secara bertahap.

Sejak kemerdekaan Uzbekistan pada tahun 1991, pemerintah berturut-turut telah memperluas kompleks tersebut yang sekarang mencakup sebuah masjid yang dapat menampung 10.000 jemaah bersamaan dengan akademi dan pusat penelitian yang didedikasikan untuk studi hadits (Pusat Penelitian Imam Bukhari Internasional, 2020).

Jemaah Indonesia secara konsisten termasuk di antara kelompok pengunjung asing terbesar, mencerminkan ikatan abadi yang dibangun oleh perjalanan bersejarah Soekarno.
 
Diplomasi Kontemporer dan Cakrawala Masa Depan

Hubungan diplomatik formal dimulai pada 23 Juni 1992, ketika presiden pertama Uzbekistan, Islam Karimov, mengunjungi Jakarta untuk menandatangani perjanjian bilateral (Kementerian Luar Negeri Republik Uzbekistan, 2022).

Indonesia telah mengakui kemerdekaan Uzbekistan pada 28 Desember 1991 dan membuka kedutaan besarnya di Tashkent pada Mei 1994, diikuti oleh kedutaan besar Uzbekistan di Jakarta pada Desember 1996 (Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 2021).
 
Nilai perdagangan Indonesia dan Uzbekistan menunjukkan tren yang positif dari 141 juta Dolar AS pada 2023 menjadi 147,6 juta Dolar AS pada 2024, dan pada awal 2025 ekspor Indonesia ke Uzbekistan tumbuh pesat sebesar 57,8% mencapai 25,78 juta Dolar AS.

Indonesia mengekspor produk seperti minyak kelapa sawit, karet, tekstil, kopi dan produk farmasi. Sementara Uzbekistan berpotensi menjadi pemasok kapas, tekstil, pupuk, serta logam mulia bagi pasar Indonesia.
 
Kerjasama pendidikan dan budaya juga berkembang pesat. Pada 2021, Pusat Studi Indonesia didirikan di Institut Ekonomi dan Jasa Samarkand, yang melatih lebih dari dua puluh mahasiswa setiap tahunnya dalam bahasa dan budaya Indonesia.

Pada 2019, Universitas Pariwisata Internasional Jalur Sutra di Samarkand menandatangani nota kerjasama dengan tiga belas lembaga Indonesia termasuk Sekolah Pariwisata Internasional Bali dan Universitas Muhammadiyah (www.kun.uz, 2019).
 
Sebagaimana yang diamati oleh Dr. Bakhtiyar Babadjanov dari Akademi Ilmu Pengetahuan Uzbekistan, “Hubungan Indonesia-Uzbekistan mewakili model dialog peradaban yang unik, di mana ikatan keagamaan historis terus menginformasikan dan memperkaya hubungan antar negara kontemporer” (Babadjanov, 2021).

Ikatan historis yang kini diperkuat dengan kerjasama kelembagaan, memposisikan kedua negara untuk berfungsi sebagai jembatan antara Asia Tenggara dan Asia Tengah untuk generasi mendatang. rmol news logo article

Adhe Nuansa Wibisono
Dosen Magister Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Direktur Eksekutif Cakramandala Institute
EDITOR: DIKI TRIANTO
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA