Keterkaitan
historis ini terwujud paling jelas dalam hubungan silsilah antara ulama
Asia Tengah dan Wali Songo, sembilan orang suci yang dihormati dan
berjasa menyebarkan Islam di seluruh Jawa.
Tokoh sentral dalam
narasi ini adalah Maulana Ibrahim Asmoroqondi juga dikenal sebagai
Syeikh Ibrahim as-Samarqandi, yang namanya menunjukkan asal-usulnya di
Samarkand salah satu kota tertua di Uzbekistan.
Seperti yang
dicatat oleh cendekiawan Usarov Sirojiddin Rakhmatullaevich, “Penyebaran
Islam ke kepulauan Indonesia sangat dipengaruhi oleh ulama Asia Tengah
yang melakukan perjalanan di sepanjang jaringan perdagangan Jalur Sutra”
(Rakhmatullaevich, 2025).
Catatan sejarah menunjukkan bahwa
Ibrahim Asmoroqondi melakukan perjalanan dari Samarkand ke Kerajaan
Champa sebelum tiba di Tanah jawa pada akhir abad ke-14. Di sana ia
menikahi Dewi Candrawulan, saudara perempuan Raja Champa, dan memiliki
putra Raden Rahmatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel, salah
satu Wali Songo yang paling berpengaruh.
Melalui Sunan Ampel,
garis keturunan berlanjut ke Sunan Bonang dan Sunan Drajat yang
menjadikan Syekh Asmoroqondi sebagai leluhur Wali Songo yang secara
fundamental membentuk Islam Jawa.
Hubungan ini menunjukkan
bagaimana tradisi intelektual Asia Tengah yang dibentuk oleh para ulama
seperti Imam Bukhari, Imam Tirmidzi dan Imam Maturidi, menemukan lahan
subur di kepulauan Nusantara.
Profesor B.B. Jakhongirov
menekankan bahwa para ulama ini menciptakan landasan epistemologis
bersama yang kemudian akan memfasilitasi keterlibatan budaya dan
diplomasi yang lebih dalam antara kedua negara (Jakhongirov, 2025).
Jalur Sutra sebagai Penghubung NusantaraUzbekistan
merupakan pusat krusial Jalur Sutra yang menghubungkan Asia Tengah
dengan Nusantara melalui jaringan perdagangan bertukar sutra, rempah,
budaya dan ilmu pengetahuan.
Uzbekistan memiliki Samarkand, salah
satu kota bersejarah dan tertua di dunia yang merupakan pusat ilmu
pengetahuan dan arsitektur Islam yang megah seperti Registan Square
sekaligus rute perdagangan global terbesar pada masanya yang dikenal
sebagai “Mutiara Jalur Sutra”.
Kemudian terdapat kota Bukhara
sebagai tempat kelahiran ahli hadits terbesar di dunia Islam yaitu Imam
Bukhari, Bukhara juga merupakan kota kuno yang menjadi jalur transit
perdagangan antara Timur dan Barat yang mempertahankan suasana pasar
karavan di abad pertengahan.
Selain itu terdapat kota Khiva, sebuah museum terbuka yang menampilkan arsitektur benteng gurun yang masih utuh.
Kota-kota
bersejarah tersebut menjadi titik singgah penting yang menghubungkan
Nusantara ke Timur Tengah, Tiongkok dan Eropa, meninggalkan warisan
peradaban yang kaya.
inggungan tersebut menjadi pertemuan Jalur
Sutra dan Jalur Rempah dimana komoditas rempah-rempah Nusantara mengalir
ke pasar-pasar di Samarkand dan Bukhara, sementara sutra dan ilmu
pengetahuan dari Asia Tengah mencapai kepulauan Nusantara.
Dinasti
Timuriyah yang didirikan oleh Amir Timur Lenk (1370-1405) mewakili
puncak perkembangan budaya ini. Wilayah kekuasaannya yang berpusat di
Samarkand meliputi Transoxiana, Khorasan, Iran, Irak, Afghanistan,
Pakistan, Rusia Selatan, Kaukasus hingga India Utara.
Kekaisaran Timuriyah ini membentang dari perbatasan Tiongkok hingga Laut Mediterania. Menurut
New York Times (1974), Timur mengumpulkan seniman dan pengrajin terbaik dari kerajaannya yang besar untuk menciptakan mahakarya arsitektur.
Mausoleumnya
Gur-e-Amir, memiliki kubah berusuk berwarna biru langit yang menjadi
tempat ziarah bagi umat Muslim dan bahkan pengunjung era Soviet. Warisan
arsitektur ini yang memadukan pengaruh dari Persia, India, dan
Mesopotamia menjadi bukti karakter kosmopolitan peradaban Asia Tengah.
Bung Karno dan Penemuan Makam Imam BukhariBabak
paling dramatis dalam hubungan Indonesia-Uzbekistan terjadi pada tahun
1956, ketika Presiden Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni
Soviet. Soekarno setuju menerima undangan Perdana Menteri Uni Soviet,
Nikita Khrushchev, hanya setelah mendapatkan komitmen untuk menemukan
dan memulihkan makam Imam Bukhari (Zamzami, 2019).
Pengumpul
hadits terkenal abad ke-9 yang kompilasi Sahih Bukhari-nya dianggap oleh
Muslim Sunni sebagai kitab paling otentik setelah Al-Quran tersebut
memiliki makna pribadi yang mendalam bagi Presiden Indonesia.
Otoritas
Soviet Uzbekistan menemukan makan tersebut di desa Hartang sekitar 30
kilometer dari Samarkand, yang telah terbengkalai selama beberapa dekade
pemerintahan Soviet.
Seperti yang dicatat oleh peneliti Ahmad
Zamzami, “Penemuan dan pemugaran makam Imam Bukhari merupakan pergeseran
signifikan dalam kebijakan Soviet terhadap warisan Islam, yang sebagian
besar didorong oleh pertimbangan diplomatik Perang Dingin dan
pentingnya strategis Indonesia” (Zamzami, 2019).
Jurnalis A.P.
Anggoro mencatat bahwa otoritas Soviet harus membersihkan semak belukar
yang telah menutupi situs makam sebelum kedatangan Soekarno (Anggoro,
2024).
Ketika Soekarno tiba pada September 1956, upacara
penghormatannya meninggalkan kesan yang mendalam. Kunjungan tersebut
diliput secara luas di media Uzbekistan dengan sambutan hangat yang
diberikan kepada delegasi Indonesia.
Menurut Pusat Penelitian
Organisasi Kerja Sama Islam, Presiden Indonesia melakukan ritual ziarah
tradisional dengan penuh pengabdian, disaksikan oleh masyarakat Muslim
Uzbekistan yang telah lama kehilangan kebebasan ekspresi keagamaan di
bawah pemerintahan Soviet (IRCICA, 2018).
Anggoro mencatat bahwa
penduduk setempat masih mengingat bagaimana Soekarno melepas sepatunya
dan berjalan tanpa alas kaki menuju makam (Anggoro, 2024).
Seperti
yang didokumentasikan oleh Pusat Penelitian Imam Bukhari Internasional,
intervensi Soekarno memicu pembukaan kembali situs-situs warisan Islam
di Uzbekistan Soviet secara bertahap.
Sejak kemerdekaan
Uzbekistan pada tahun 1991, pemerintah berturut-turut telah memperluas
kompleks tersebut yang sekarang mencakup sebuah masjid yang dapat
menampung 10.000 jemaah bersamaan dengan akademi dan pusat penelitian
yang didedikasikan untuk studi hadits (Pusat Penelitian Imam Bukhari
Internasional, 2020).
Jemaah Indonesia secara konsisten termasuk
di antara kelompok pengunjung asing terbesar, mencerminkan ikatan abadi
yang dibangun oleh perjalanan bersejarah Soekarno.
Diplomasi Kontemporer dan Cakrawala Masa DepanHubungan
diplomatik formal dimulai pada 23 Juni 1992, ketika presiden pertama
Uzbekistan, Islam Karimov, mengunjungi Jakarta untuk menandatangani
perjanjian bilateral (Kementerian Luar Negeri Republik Uzbekistan,
2022).
Indonesia telah mengakui kemerdekaan Uzbekistan pada 28
Desember 1991 dan membuka kedutaan besarnya di Tashkent pada Mei 1994,
diikuti oleh kedutaan besar Uzbekistan di Jakarta pada Desember 1996
(Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, 2021).
Nilai
perdagangan Indonesia dan Uzbekistan menunjukkan tren yang positif dari
141 juta Dolar AS pada 2023 menjadi 147,6 juta Dolar AS pada 2024, dan
pada awal 2025 ekspor Indonesia ke Uzbekistan tumbuh pesat sebesar 57,8%
mencapai 25,78 juta Dolar AS.
Indonesia mengekspor produk
seperti minyak kelapa sawit, karet, tekstil, kopi dan produk farmasi.
Sementara Uzbekistan berpotensi menjadi pemasok kapas, tekstil, pupuk,
serta logam mulia bagi pasar Indonesia.
Kerjasama pendidikan dan
budaya juga berkembang pesat. Pada 2021, Pusat Studi Indonesia
didirikan di Institut Ekonomi dan Jasa Samarkand, yang melatih lebih
dari dua puluh mahasiswa setiap tahunnya dalam bahasa dan budaya
Indonesia.
Pada 2019, Universitas Pariwisata Internasional Jalur
Sutra di Samarkand menandatangani nota kerjasama dengan tiga belas
lembaga Indonesia termasuk Sekolah Pariwisata Internasional Bali dan
Universitas Muhammadiyah (www.kun.uz, 2019).
Sebagaimana yang
diamati oleh Dr. Bakhtiyar Babadjanov dari Akademi Ilmu Pengetahuan
Uzbekistan, “Hubungan Indonesia-Uzbekistan mewakili model dialog
peradaban yang unik, di mana ikatan keagamaan historis terus
menginformasikan dan memperkaya hubungan antar negara kontemporer”
(Babadjanov, 2021).
Ikatan historis yang kini diperkuat dengan
kerjasama kelembagaan, memposisikan kedua negara untuk berfungsi sebagai
jembatan antara Asia Tenggara dan Asia Tengah untuk generasi mendatang.
Adhe Nuansa WibisonoDosen Magister Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Direktur Eksekutif Cakramandala Institute
BERITA TERKAIT: