Sebagai bangsa yang besar, sudah selayaknya Indonesia juga mengembangkan industri militer yang mandiri. Janganlah kita terlalu berbangga diri dengan datangnya pesawat tempur Sukhoi dan Heli tempur yang dibeli dari Rusia yang katanya canggih, karena kalau kita tidak waspada, negara beruang merah inipun bisa melakukan embargo seperti AS.
Selama ini salah satu kendala TNI dibidang persenjataan adalah dalam pengadaan dan pemeliharaan Alat Utama Sistim Persenjataan (Alutsista), yang sampai saat ini belum dapat dipenuhi dari dalam negeri. Ketergantungan kepada pemasok luar inilah yang menyebabkan setiap pengadaan persenjataan prosesnya selalu menjadi masalah karena selain prosesnya yang ruwet, acap kali prosesnya terindikasi terjadi penyelewengan. Pengadaan persenjataan TNI menjadi sangat rentan tatkala ketergantungan dengan luar negeri begitu dominan, sehingga kita sering menjadi bulan bulanan embargo oleh negara pemasok.
Untuk menyikapi permasalahan diatas sudah sepantasnyalah Indonesia mulai mengurangi ketergantungan kepada produksi luar negeri dan harus lebih memberdayakan industri-industri strategis dari dalam negeri seperti PT Pindad yang sudah mampu membuat senjata ringan sampai sedang dan munisi bahkan bom serta kendaraan tempur ringan. PT Dirgantara Indonesia bila dioptimalkan, saya yakin, mampu membuat pesawat tempur. PT PAL sampai saat ini merupakan industri perkapalan yang telah mampu membuat kapal kapal perang. PT Dahana merupakan industri bahan peledak yang mampu membuat bom dan juga PT Bharata di Surabaya, walaupun tidak termasuk industri strategis pertahanan, namun bila diberdayakan, saya yakin, mampu membuat kendaraan tempur seperti tank dan panser.
Bila industri ini benar-benar diberdayakan, kita tidak perlu merasa khawatir adanya embargo senjata yang sering diterapkan negara pemasok. Apalagi kini akan menjalin kerja sama dengan berbagai negara sahabat, sehingga dimasa mendatang kita benar - benar mampu mandiri dibidang peralatan militer.
Sekarang tinggal bagaimana pemerintah atau Kemhan mau memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, untuk mengurangi ketergantungan pada luar negeri. Seharusnya kata embargo bukan untuk ditakuti, tapi harus dilawan dengan kerja keras dengan meningkatkan industri pertahanan dalam negeri sekalipun harus melakukan kerjasama dengan luar negeri, kemandirian itu harus diwujudkan.
Nurhayati, Jati Cempaka, Pondok Gede, Bekasi,
BERIKUTNYA >