Menurut analis komunikasi politik Hendri Satrio, pidato presiden itu lebih dari sekadar teguran namun "instruksi moral" kepada aparat agar tidak lupa dari mana kewenangan mereka berasal.
"Ini bukan sekadar teguran biasa, ini masuknya perintah. Dia cuma mau mengingatkan agar aparat berhenti merasa menjadi pemilik negara dan ingat bahwa mereka hanya dititipi amanah oleh rakyat," ujar Hensa, Minggu, 12 Juli 2026.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI ini menilai, kalimat Presiden yang menyebut "sepatu, bintang, topi" berasal dari rakyat merupakan simbol bahwa pangkat dan jabatan bukanlah hak istimewa yang melekat seumur hidup.
"Kalau masih ada aparat yang merasa pangkat dan seragam membuat dirinya lebih tinggi dari rakyat, berarti dia gagal memahami pesan Presiden di Lombok itu. Pangkat itu diberikan rakyat, bukan turun dari langit," katanya.
Pernyataan Presiden juga menjadi peringatan bahwa aparat tidak boleh memaknai loyalitas hanya sebatas kepada atasan atau institusi. Loyalitas tertinggi, kata dia, harus ditujukan kepada kepentingan rakyat, sesuai pesan Prabowo di pidato itu.
"Kalimat Presiden bahwa rakyat tidak ingin korupsi sebenarnya sederhana, yang rumit justru kalau masih ada aparat yang pura-pura tidak mendengar. Kalau pesan sejelas ini masih dianggap angin lalu, berarti persoalannya bukan lagi pada Presiden, melainkan pada telinga para aparatnya," ucap Hensa.
Ia pun menilai, publik selama ini tidak pernah menuntut hal yang muluk-muluk. Masyarakat hanya menginginkan negara hadir melalui aparat yang bekerja dengan jujur, adil, dan tidak menyalahgunakan kewenangan.
"Rakyat kan selama ini tidak meminta aparat menjadi malaikat, cukup adil dan jangan menjadi beban. Jangan sampai seragam yang seharusnya melindungi justru membuat rakyat merasa takut, dan saya kira itu inti yang ingin ditegaskan Presiden dalam pidatonya," tuturnya.
Ia menilai, efektivitas pidato presiden akan terlihat dari perubahan cara kerja aparat dalam melayani masyarakat.
"Dalam politik, pesan pemimpin baru memiliki dampak ketika diterjemahkan menjadi perilaku birokrasi. Karena itu, publik akan melihat konsistensi aparat dalam menjalankan arahan Presiden, bukan hanya substansi pidatonya," tutup Hensa.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: