Anggapan bahwa Mbah Maridjan hebat juga perlu diverifikasi secara empiris. Yang pasti, pada 2006 Mbah Maridjan menolak diungsikan, walaupun para ahli vulkanologi dan Tim SAR membujuk Mbah Maridjan untuk turun gunung. Terbukti, Mbah Maridjan selamat. Lantas media massa membesar-besarkan kasus itu. Bahkan Mbah Maridjan dijadikan bintang iklan. Padahal, kehebatannya bukanlah kehebatan empiris. Hanya satu kali. Terbukti, pada 2010 Mbah Maridjan gagal dan tewas.
Ada anggapan bahwa Mbah Maridjan seorang
leader dan bahkan perlu diusulkan jadi pahlawan. Ini juga tidak benar. Yang namanya
leader yaitu orang yang mampu memimpin orang lain dan dirinya sendiri. Sedangkan Mbah Maridjan tidak mampu memimpin dirinya sendiri.
Anggapan bahwa Mbah Maridjan mati khusnul khotimah juga tidak benar. Ada 18 ciri khusnul khotimah. Dua di antaranya mirip dengan peristiwa Mbah Maridjan, yaitu mati terbakar dan sedang shalat. Padahal, yang dimaksud mati terbakar adalah apabila tidak sengaja. Sedangkan Mbah Maridjan sengaja. Shalatnya Mbah Maridjan bagus. Tetapi, seharusnya Mbah Maridjan menyelamatkan diri kemudian shalat. Namun yang dilakukan Mbah Maridjan adalah shalat dalam kondisi menantang logika alam. Menantang bencana. Padahal, menyelamatkan diri dari bencana menurut agama Islam hukumnya wajib.
Hariyanto ImadhaBSD Nusaloka Sektor XIV-5Jl.Bintan 2 Blok S-1/11TANGERANG 15318