Rapat digelar di Posko Penanganan Bencana Gempa Bumi Nusa Tenggara Timur yang bertempat di Batalyon Teritorial Pembangunan Kabupaten Nagekeo.
Dalam rapat tersebut hadir Kepala BNPB Suharyanto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Kapolri Jenderal Listyo Sigit, Wakil Panglima TNI Tandyo Budi Revita, beserta jajaran Forkopimda.
Kepala BNPB dalam laporannya menyampaikan perkembangan penanganan tanggap darurat bencana gempa Flores yang telah memasuki hari ke-12.
Gempa tersebut mengguncang tujuh kabupaten di Flores. Sejak 15 Agustus 2026 hingga kini, aktivitas gempa telah mencapai 7.259 kali, dengan titik episentrum berada di sebelah utara Nagekeo.
"Jadi sebetulnya jumlah pengungsi nanti yang banyak ini bukan karena terdampak gempa secara langsung, tetapi karena gempa susulannya banyak, mereka ketakutan dan juga ada beberapa isu dari media sosial yang menyatakan bahwa akan ada gempa susulan yang lebih besar, bahkan ada tsunami," jelasnya.
BNPB mencatat Manggarai dan Manggarai Timur menjadi dua kabupaten dengan dampak paling parah. Nagekeo menempati urutan ketiga.
Dari 105 korban meninggal dunia, sebanyak 48 orang merupakan korban yang terdampak langsung gempa, sedangkan 57 lainnya merupakan korban tambahan berdasarkan hasil operasi SAR dan penanganan di fasilitas kesehatan, termasuk korban trauma, lansia, dan anak-anak.
BERITA TERKAIT: