Ekonom Yanuar Rizki mengenang peristiwa ledakan gedung WTC pada 9/11 melumpuhkan Bursa Saham New York dan memicu kerugian pasar saham global hingga mencapai 1,4 triliun Dolar AS. Saat kepercayaan investor terhadap pasar AS merosot tajam, Mahathir justru membaca peluang emas.
"Saya cukup ingat ketika dia buat yang namanya Labuan Financial Exchange. Jadi itu sebetulnya kalau dilihat momentumnya, Labuan itu memanfaatkan krisis ketika 9/11 terjadi di Amerika Serikat," ujar Yanuar dikutip dairi YouTube Satu Visi Utama, Jumat, 24 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pengetatan regulasi dan prosedur
Know Your Customer (KYC) yang berlebihan oleh AS terhadap dana-dana milik investor dari negara-negara Islam memicu eksodus modal secara masif dari
wealth management AS.
Situasi genting tersebut dimanfaatkan Mahathir untuk menarik arus modal yang keluar dari AS masuk ke kawasan Asia Tenggara melalui instrumen keuangan syariah.
"Mahathir memanfaatkan kondisi itu. Dia buatlah Labuan Financial Exchange, kemudian produk unggulannya ya Sukuk," tutur alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.
Keberhasilan menerbitkan Sukuk tersebut, lanjut Yanuar, bahkan menjadi mesin pertumbuhan (
growth engine) utama yang membuat lompatan ekonomi Malaysia sempat meninggalkan Indonesia.
Melihat kondisi global saat ini yang kembali diwarnai ketidakpastian dan ketegangan geopolitik, Yanuar mendorong pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk berani mengambil celah serupa.
Momentum krisis internasional harus ditangkap sebagai peluang strategis demi menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional.
BERITA TERKAIT: