Awalnya Gatot menyebut alasan adanya amandemen periode 1999-2002 yang mengatasnamakan demokrasi sebagai amanat Reformasi untuk menuju kesejahteraan rakyat.
“Tapi yang muncul justru ini, biaya politik sangat mahal, politik uang merajalela, oligarki menguasai partai, partai juga bertindak sebagai oligarki, kemudian dominasi pemilik modal, korupsi tetap tinggi, serta kesenjangan ekonomi yang tidak banyak berubah, inilah keberhasilan UUD 2002,” kata Gatot dikutip dalam kanal YouTube
Hersubeno Point, Selasa malam, 27 Mei 2026.
Panglima TNI periode 2015-2017 ini lantas menyatakan dengan adanya pintu masuk melalui UUD 2002, maka seluruh peraturan perundang-undangan turunannya bermuara pada penguasaan sumber kekayaan alam Indonesia oleh kekuatan tertentu.
“2014 saya sudah menyampaikan bahwa Indonesia itu ibarat gadis yang seksi. Seksi Semua undang-undang yang ada itu (turunan UUD 2002) bullshit semuanya. Ujung-ujungnya adalah bagaimana merampok sumber daya kekayaan Indonesia,” tegasnya.
Jebolan Akabri 1982 ini kemudian menegaskan bahwa penguasaan kekayaan alam Indonesia merupakan bagian dari dampak perang ekonomi global.
“Bukan untuk apa-apa. Tidak ada perang ideologi sekarang. Tidak ada! Yang ada ekonomi. Mulai dari minyak dulu, sekarang beralih kepada ekonomi. Tanah, air, energi, tumbuh-tumbuhan. Karena memang teori Thomas Malthus mengatakan jumlah penduduk itu luar biasa berkali-kali, tapi keadaan pangan hanya tambah-tambahan. Jadi kalau tidak di-manage bisa kanibalisasi. Itu sebenarnya permasalahannya,” tandas Gatot.
BERITA TERKAIT: