Menurutnya, perdebatan publik yang muncul merupakan hal wajar, sebab setiap warga negara memiliki cara pandang dan pengalaman yang berbeda terhadap sejarah dan kebijakan masa lalu.
“Pro-kontra pasti ada, sebab indikator penilaian pemerintah dan masyarakat pasti berbeda. Itu dipengaruhi oleh informasi yang diterima setiap warga negara, baik yang dirasakan secara langsung maupun tidak langsung,” kata Anas kepada RMOL, Selasa, 11 November 2025.
Direktur Eksekutif FIXPOLL Indonesia itu mengibaratkan penilaian terhadap sosok pahlawan layaknya menimbang sisi baik dan buruk manusia.
“Orang masuk surga belum tentu tidak pernah berbuat dosa, tapi oleh karena lebih banyak kebaikannya daripada kesalahannya,” ujarnya.
Meski demikian, Anas meyakini Presiden Prabowo Subianto tetap menilai secara objektif dan tidak terpengaruh oleh kedekatan historis dengan keluarga Cendana.
“Kita berharap Presiden Prabowo Subianto menilai sosok tokoh bangsa yang layak dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional bukan karena dirinya bagian dari keluarga HM Soeharto,” tegas Anas.
Penganugerahan gelar pahlawan hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat rekonsiliasi sejarah, bukan membuka kembali luka lama.
BERITA TERKAIT: