Direktur Eksekutif IPRC, Firman Manan menjelaskan, dalam waktu ini dinamika politik elektoral semakin meningkat. Mengingat, masa pencalonan anggota DPR akan dimulai dari 24 April sampai 25 November 2023.
Dilanjut dengan masa pencapresan yang dimulai 19 Oktober hingga 25 November 2023. Lalu ditambah masa kampanye pada 28 November 2023.
"Jabar menjadi wilayah strategis yang tentu menjadi rebutan semua partai politik dan pasangan capres-cawapres dalam Pemilu 2024. Apalagi hasil pemilu di Jabar bisa menentukan hasil pemilu di nasional," kata Firman, seperti diwartakan
Kantor Berita RMOLJabar, Sabtu (31/12).
Adapun terkait dengan tingkat kedikenalan masyarakat bagi sosok yang digadang-gadang akan maju sebagai Capres, Prabowo Subianto menjadi tokoh yang paling dikenal. Kemudian, disusul oleh Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, dan Andika Perkasa.
Lebih lanjut, Firman menuturkan, elektabilitas Partai Gerindra berada di posisi teratas dengan 22,9 persen; PDIP 16,2 persen; PKS 13,2 persen; Golkar 11,8 persen; dan Demokrat 6,1 persen.
"Kecenderungan kenaikan atau penurunan elektabilitas partai itu dipengaruhi Capres Cawapres," bebernya.
Menurutnya, Partai Gerindra dan PDIP mengalami kenaikan elektabilitas karena diasosiasikan memiliki kedekatan dengan sosok memiliki elektabilitas relatif signifikan di Jabar seperti Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.
"Elektabilitas Capres nonpartai (Anies dan RK) belum memberikan efek signifikan bagi parpol," imbuhnya.
Di sisi lain, Firman menerangkan, nama Ridwan Kamil masih tetap paling tinggi untuk cagub Jabar dengan 49,4 persen. Nama lainnya yakni Dedi Mulyadi 22,2 persen; Deddy Mizwar 7,7 persen; dan Dede Yusuf 6,9 persen.
"Tapi kalau Kang Emil tak lagi maju di Pilgub maka nama Dedi Mulyadi menjadi yang tertinggi dengan 34,6 persen. Disusul Deddy Mizwar 14,5 persen; Dede Yusuf 14,2 persen; dan Atalia 5,9 persen. Perubahan signifikannya itu ialah dengan munculnya Atalia karena diasosiasikan dekat dengan RK," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: