Kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia semakin jauh dari nilai-nilai
Islam wasathiyah atau Islam moderat lantaran terjadinya kebencian, memusuhi akibat eksploitasi politik identitas, serta polarisasi ekstrem antara kelompok ultranasionalis dengan kelompok garis keras agama.
"Seolah tidak terbuka ruang dialog berkeadaban, tidak ada jalan tengah. Kita dipaksa harus memilih antara ujung kanan atau ujung kiri,†kata Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di acara 'Malam Silaturahmi dan Kontemplasi Partai Demokrat' di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Minggu (17/4).
Kondisi yang tidak memiliki ruang berdialog ini, kata AHY, diperburuk dengan munculnya berbagai fitnah melalui media sosial.
"Kondisi ini diperburuk dengan berkembang politik
post-truth,
hoax, fakenews, black campaign, hate speech seolah-seolah menjadi kelaziman bahkan dimaklumi, diterima, dibenarkan sebagai salah satu strategi mencapai tujuan tertentu,†katanya.
Dia mengamini politik fitnah bukan barang baru. Namun di era yang semakin digital dan tanpa batas ini, maka
post-truth politics bisa sangat menghancurkan.
"Tentunya hanya memecah-belah bangsa, persatuan dan kesatuan kita jadi taruhan. Ini sangat berbahaya dan penting kita cegah bersama,†tutupnya.
BERITA TERKAIT: