Hal tersebut ditekankan Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri dalam webinar bertema 'Dialog Kebangsaan Pembudayaan Pancasila dan Peneguhan Kebangsaan Indonesia di Era Milenial' yang diadakan oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Selasa (10/11).
"Semangat Hari Pahlawan ini tidak hanya simbolik, tapi harus diceritakan sejarah negara kita dengan tidak ada pemutarbalikan," jelas Megawati.
Dewasa ini, ia menyebut sejarah bangsa bisa dipelajari dari banyak medium. Bukti otentik sejarah bangsa pun sudah bisa diakses di Arsip Nasional dan beberala literasi lain.
"Sehingga para pemuda kita sekarang mengerti bagaimana jalan pemikiran, bukan hanya Bung Karno saja sebagai prokamator, tapi para pemimpin bangsa yang lain," tambah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) ini.
Baginya, di Hari Pahlawan adalah momen mengajak untuk melihat perjuangan anak-anak bangsa mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah diraih. Momentum mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kata dia, digaungkan oleh para santri pada 22 Oktober 1945, dengan semangat
hubbul wathon minal iman.
"Semangat
hubbul wathon minal iman oleh para santri melalui revolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 menjadi api semangat bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia," kata Megawati.
Semangat inilah, lanjut dia, membawa sampai ke Surabaya, tepatnya di Hotel Yamato. Di mana para pemuda dengan gagah berani naik ke puncak gedung tertinggi, merobek warna biru pada bendera Belanda. Bendera tersisa dijadikan sang saka merah putih.
"Generasi muda mustinya mengetahui heroiknya sejarah tersebut," kisah Megawati.
Karena itu, dia mengusulkan untuk semua pihak memutarkan kembali film-film dokumenter. Tujuannya agar generasi muda sekarang bsia membayangkan bagaimana sebenarnya perjuangan para pemuda di era kemerdekaan itu.
"Sehingga anak keturunan kita tetap mengerti bahwa mengapa Hari Pahlawan ini disebut Hari Pahlawan. Terbayangkan kalau sekiranya kita merdeka itu dengan diberi? Saya kira tidak akan ada namanya pahlawan," demikian Megawati.
BERITA TERKAIT: