Dalam kesempatan itu Gubernur Bali, I Wayan Koster memberikan apresiasi atas suksesnya acara yang mencatat potensi transaksi hingga Rp6,9 triliun itu.
Koster menyebut Bali masih menjadi idola wisata dunia. Meski sempat terpuruk kalah dari Thailand dan Vietnam serta Malaysia juga Singapura, dia meminta semua pihak turut andil menata Bali agar bisa dicinta dan dipercaya dunia lagi.
Tak hanya itu, Koster mengakui isu kemacetan, air, hingga sampah membuat kepercayaan dunia mulai pudar tentang Bali.
"Isu seperti sampah, kemacetan, air, energi, dan pelanggaran tata kelola tidak boleh diabaikan. Ini harus kita selesaikan dan didukung pemerintah pusat serta pembahasan di DPR," kata Koster.
Menurut Koster, perlu keseriusan menyelesaikan permasalahan tersebut karena pariwisata adalah sektor strategis yang dapat mengangkat ekonomi masyarakat.
Sambungnya, Bali memiliki ciri khas yang tidak dimiliki negara lain keindahan alam dan kebudayaan yang masih tetap dijaga hingga saat ini.
"Bali harus tetap menjadi Bali. Bali itu punya kekuatan alam, kekayaan, keunikan dan kemuliaan budaya yang menyatu dengan kehidupan spiritual masyarakat Bali. Ini yang membuat Bali tetap dipercaya dunia," ungkap Koster.
Sementara itu, ajang BBTF 2026 kali ini telah mencatat potensi transaksi mencapai angka fantastis yang mencapai Rp6,9 triliun, dengan 407 buyer dari 44 negara, dan 286 seller dari 4 negara serta 12 provinsi Indonesia ikut berpartisipasi terlibat dalam ajang tahunan itu.
Potensi transaksi tersebut menjadi modal utama bahwa Indonesia khususnya Bali sangat kuat pada pasar pariwisata dunia, di tengah pergolakan ekonomi dan geopolitik global.
Di sisi lain, Ketua Panitia BBTF 2026 yang juga menjabat sebagai Ketua ASITA Bali, Putu Winastra menuturkan nilai ajang tahun itu tidak terhenti pada sebuah potensi angka transaksi.
Namun, ia menambahkan ada dampak besar yang berkelanjutan melalui bisnis, kontrak lanjutan, pengembangan itinerary baru, pasar yang lebih luas, kemitraan, dan potensi buyer yang akan membawa wisatawan lebih banyak banyak lagi ke Indonesia.
"Sebuah travel trade show tidak berhenti ketika booth ditutup atau ketika pertemuan bisnis terakhir selesai. Nilai terbesarnya justru berlanjut setelah penyelenggaraan,” demikian Winastra.

*
Kontributor Bali
BERITA TERKAIT: