Sebagai negara mayoritas muslim, pemerintah Indonesia harus tegas kepada pemimpin-pemimpin negara atau otoritas negara di mana terjadi penghinaan terhadap Nabi Muhammad.
“Sehingga pemerintah menyikapi secara tegas dan bijaksana terhadap para penghina Nabi Muhammad di wilayahnya. Karena kenapa? Karena kita tahu kita semua, saya kira bercita-cita untuk dalam kebersamaan dan kehangatan,†kata Habib Husein Ja’far Al Hadar kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (5/11).
Habib Husein tidak sepakat dengan adanya pernyataan kebebasan berekspresi itu diartikan bebas melakukan penghinaan. Menurutnya, kebebasan berekspresi memiliki batasan-batasan untuk menjaga kebersamaan dan kehangatan satu dan yang lainnya.
Namun demikian, ia meminta kepada masyarakat Indonesia untuk tidak terprovokasi dengan adanya tayangan gambar Nabi Muhammad di China.
Sebab Nabi Muhammad pun telah mencontohkan perilaku memaafkan meski mendapat hinaan. Habib Husein pun mengurai beberapa ayat dalam Al Quran yang menceritakan peristiwa penghinaan orang kafir kepada nabi Muhammad. Seperti surah Al-Hijr ayat 6, surah Ashshofaat ayat 36 dan beberapa lainnya.
“Artinya, penghinaan terhadap Nabi Muhammad itu telah ada sejak Nabi Muhammad hidup. Nabi Muhammad dilempar batu, dihina, dan lain sebagainya. Nabi tidak membalas hinaan, kecuali dengan hal-hal yang positif untuk mengubah masyarakat yang menghina agar jadi baik," jelasnya.
“Sikap kita tidak perlu terprovokasi dengan China itu. Karena, tujuan utama kita adalah menjaga kebersamaan. Jangan membalas hinaan dengan hinaan. Bersikap tegas tapi dalam koridor kebijaksanaan, kemudian berorientasi pada penyelesaian masalah, bukan untuk membalas,†tandasnya.
BERITA TERKAIT: