Ia tercatat sebagai mahasiswa bersama dengan mayoritas perwira TNI dari matra Angkatan Laut, Darat, maupun Udara, dan kepolisian serta tokoh-tokoh nasional lain seperti Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto dan Sekjen Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Teguh Haryono.
Srikandi beringin ini mengaku akan berkomitmen untuk benar-benar secara profesional dan bertanggung jawab memanfaatkan kesempatan beasiswa yang diberikan oleh Negara agar bisa memberi kontribusi nyata berupa pemikiran komprehensif bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Ia mengatakan, saat memutuskan untuk menempuh S3 di Universitas Pertahanan sebagai salah satu kampus negeri terbaik di Indonesia, sejatinya telah sesuai dengan
legacy keluarga yang berlatar belakang dari kultur militer.
"Kebetulan saya tumbuh dan besar di keluarga tentara dari almarhum ayah yang merupakan perwira Angkatan Darat lulusan AKABRI 74. Namun secara khusus,
concern saya adalah mendalami dan menemukan instrumen penentu keberhasilan kedaulatan pangan sebagai tulang punggung utama pertahanan nasional," kata Dina Hidayana dalam keterangannya, Kamis (3/9).
Alumni S2 Magister Resolusi Konflik UGM berpredikat cumlaude ini melanjutkan, kejayaan agraris Indonesia harus dikuatkan melalui reformulasi kebijakan pertanian dan pangan dalam arti luas.
"Pandemik Covid-19 adalah momentum tepat untuk mengoptimalkan seluruh kekayaan Indonesia, baik dari aspek sumber daya alam maupun manusia," ungkap Staf Ahli Fraksi Golkar DPR RI 2009-2014 ini.
Nantinya, ia berharap penelitian disertasi yang rencananya akan diselesaikannya dalam waktu dua tahun ini dapat men-
trigger dan meng-
influnce masyarakat luas, khususnya para pemegang kekuasaan untuk lebih fokus pada potensi utama Indonesia, dalam hal pembangunan pertanian dan pangan nasional.
"Dengan seluruh potensi yang kita miliki, maka ketergantungan impor harus bisa kita akhiri.
Pagebluk corona dijadikan sebagai peluang untuk Indonesia berada di garis terdepan penentu stabilitas dunia dalam hal ketersediaan pangan," jelas jurubicara Depinas SOKSI ini.
Sebagai satu-satunya perempuan penerima beasiswa Mahasiswa Doktoral Cohort 3 Universitas Pertahanan Indonesia, ia percaya bahwa keterlibatan perempuan di ranah militer dapat menginfiltrasi cara-cara penyelesaian konflik yang cenderung mengedepankan nirkekerasan.
"Zaman sudah jauh berubah, perang fisik sudah hampir punah bertransformasi menjadi bentuk lain yang lebih sulit dikenali. karenanya, peran dan keterlibatan perempuan di semua lini dan fungsinya mutlak diperlukan untuk mendapatkan perspektif dari ragam
gender untuk mencapai Indonesia yang lebih sejahtera sesuai tujuan berbangsa dan bernegara, sesuai yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea 4," tandasnya.
BERITA TERKAIT: