Pembatalan Ujian Nasional Melampaui Pencegahan Covid-19?

Minggu, 19 April 2020, 06:58 WIB
Pembatalan Ujian Nasional Melampaui Pencegahan Covid-19?
Kader muda Muhammadiyah dan peneliti International Centre for Islam and Pluralism (ICIP), Fahmi Syahirul Alim/Ist
BEBERAPA waktu yang lalu saya mendapatkan cuplikan video menarik dan inspiratif dalam salah satu WhatsApp Grup terbatas yang diisi oleh beberapa tokoh dan penggerak utama Muhammadiyah. Video tersebut dibagikan oleh Yana Aditya, salah satu profesional muda alumni Perguruan Tinggi Muhamamdiyah (PTM) ternama yang saat ini mengemban amanah sebagai Direktur Utama salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di cluster pangan.

Setelah saya melihat isi video tersebut saya berpikir, tak heran jika seorang Kak Yana (begitu kami biasa memanggil beliau) membagikan video tersebut, sebagai praktisi bisnis dan industri yang malang melintang di beberapa perusahaan nasional serta sudah berada di top level kepemimpinan, sudah barang tentu memiliki kegelisahan dan kepedulian dalam melihat dunia pendidikan kita yang masih terseok-seok dalam mengejar kebutuhan dan tuntutan industri yang saat ini perubahanya begitu cepat, sehingga membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang handal, tangguh dan siap (adaptif) dalam menghadapi perubahan-perubahan yang begitu cepat tersebut.

Video tersebut bercerita tentang seorang anak didik beserta ibunya yang dipanggil oleh seorang guru karena dianggap gagal dalam ujian sekolah. Dengan nada kecewa dan sedikit emosi sang guru mengatakan kepada ibu dari anak tersebut bahwa anaknya tidak memiliki masa depan yang cerah. Dengan kondisi tersebut muka sang Ibu memerah dan turut serta menceramahi anaknya dengan nada kecewa dan marah.

Namun beberapa saat kemudian sang anak yang tadinya menunduk mendengarkan “omelan” dari kedua orang yang sangat dia hormati di dunia ini, perlahan mengangkat kepalanya dan meminta izin untuk memberi pembelaan diri.

Sang Anak dengan tenang mengatakan jika masa depan tidak hanya ditentukan oleh nilai ujian karena masa depan sangatlah berbeda dari sekarang dan bahkan sang anak mengatakan justru sang guru tidak banyak membantu bagi masa depan dia karena diprediksi hampir semua lapangan kerja ke depan akan bergantung pada mesin.

Oleh karena itu, dalam menghadapi situasi tersebut menurut sang anak, orang-orang yang sukses haruslah orang yang memiliki beberapa kriteria yaitu: pertama, memiliki keingin tahuan yang tinggi (curiousity), kedua, selalu melakukan inovasi (innovative) dan ketiga, memiliki keuletan untuk beradaptasi dengan perubahan baru (resilient). Sang anak mengeluh karena saat ini fokus sekolah bukanlah pada hal-hal di atas, melainkan hanya memuntahkan informasi dan mengerjakan ujian semata.

Padahal menurutnya di era sekarang, kreativitas adalah kemampuan (skill) kepemimpinan yang paling penting, oleh karenanya tidak akan ada lagi orang yang mendapat pekerjaan karena apa yang mereka ketahui, karena tidak ada yang peduli dengan apa yang kita ketahui dan apa yang kita ingat dan kita hafalkan, karena sekarang kita memiliki Google dan Siri untuk melakukan hal tersebut.

Di masa depan orang-orang akan mendapatkan pekerjaan karena apa yang bisa mereka lakukan dengan pengetahuan mereka, bisakah mereka secara kreatif memecahkan permasalahan di dunia nyata? bukan hanya mengikuti perintah atau petunjuk dan menyilang soal-soal pilihan ganda, kilah sang anak di depan sang guru dan ibundanya.

Si anak pun curhat karena dengan cara-cara konvensional jika bukan malah cara-cara kuno itulah dia selama ini merasa tertekan. Jika tidak ada perubahan-perubahan radikal dalam sistem pendidikan, salah satunya meninggalkan tugas-tugas pengetahuan yang berulang-ulang maka menurut sang anak akan banyak lulusan sekolah yang menjadi pengangguran karena banyak perusahaan besar saat ini tidak melihat nilai sama sekali. Bahkan IPK tidak terlalu menentukan, jika boleh dikatakan tidak berguna dalam pekerjaan.

Si anak berpesan pada gurunya, “jika bapak melanjutkan mengajar hari ini seperti cara bapak mengajar kemarin (pada masa lalu), maka bapak sudah merampok hari esok dari kami. Bapak memiliki pekerjaan yang paling mulia dan paling penting di planet ini, Bapak membangun, membentuk, dan menyelamatkan banyak jiwa, tapi jika bapak benar-benar peduli dengan masa depan kami, maka bapak harus berkomitmen penuh dan tanyakan pada diri Bapak sejujurnya, bagaimana bapak mempersiapkan seorang anak untuk menghadapi masa depan yang belum ada saat ini. Dan jawabanya bukan hanya ada pada teks buku, tapi ada pada hati dan pikiran. Di masa depan kita membutuhkan lebih banyak semangat (passion) dan kasih sayang (compassion), orang-orang dengan hati yang penuh inspirasi (inspired) dan kebijaksanaan (wisdom) untuk memajukan planet ini”.

Mendengar pembelaan dari si anak, Ibu dan guru tersebut tertegun dan mulai luluh bahkan malah terlihat bangga.

Apresiasi pada BSNP dan Momentum Penting untuk Perubahan


Di tengah kegelisahan kita semua akan sistem pendidikan Indonesia yang tidak jauh dengan apa yang ada dalam cerita video yang dibagikan oleh ka Yana di atas, serta ketika seluruh dunia terdampak pandemi Covid 19, terselip harapan baru bagi dunia pendidikan Indonesia yaitu dipercepatnya penghapusan Ujian Nasional (UN) dalam rangka pencegahan Covid-19.

Dalam hal ini, kita harus menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya  kepada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang dengan sigap dan cepat mengusulkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) agar pelaksanaa Ujian Nasional tahun pelajaran 2019-2020 dibatalkan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

Dalam surat yang ditandatangani langsung oleh Ketua BNSP yang juga merupakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadyah, Abdul Mukti, ada 6 poin mengapa pembatalan UN harus disegerakan.

Pertama, Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor: 13.A/2020 tentang Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia.

Kedua, Keputusan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Nomor: 0053/P/BSNP/I/2020 tentang Prosedur Operasional Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2019/2020 BAB XVI.

Ketiga, Permohonan Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota serta Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) tentang penundaan Ujian Nasional SMA/MA, SMP/MTs, dan Pendidikan Kesetaraan Program Paket B/Wustha dan Paket C/Ulya karena wabah pandemi virus Corona (Covid-19).

Keempat, Laporan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Ujian Nasional SMK/MAK oleh anggota BSNP dan Balitbang dan Perbukuan. Kelima, Keputusan rapat koordinasi BSNP dengan Balitbang dan Perbukuan, Pusat Asesmen dan Pembelajaran, dan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 23 Maret 2020.

Keenam. Peraturan Pemerintah 19/2005, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32/2013, dan perubahan kedua sebagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 13/2015, bahwa yang berwenang membatalkan UN adalah Pemerintah.

Oleh karena itu, demi kemaslahatan dan keselamatan bangsa, terutama peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, BSNP sebagai badan mandiri dan independen yang berwenang menyelenggarakan Ujian Nasional (PP Nomor 19 Tahun 2005) mengusulkan kepada pemerintah agar Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2019/2020 dibatalkan. Surat usulan pembatalan Ujian Nasional sudah disampaikan oleh BSNP kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 23 Maret 2020.

Bak gayung bersambut, pada esok harinya melalui live streaming, Mendikbud, Mas Nadiem Makarim setelah berkonsultasi dengan Presiden RI, resmi membatalkan Ujian Nasional Tahun pelajaran 2019-2020. Bahkan dalam Ratas bersama jajaran Kabinet Indonesia Maju via teleconference, Jumat (3/4) Presiden Jokowi menyatakan bahwa pembatalan UN adalah momentum untuk mendesign ulang sistem evaluasi pendidikan secara nasional.

Oleh karena itu, melihat realitas pendidikan kita yang jalan di tempat dan setelah menyaksikan atau mendengar cerita video di atas, maka sejatinya pembatalan Ujian Nasional bukan hanya sekedar mencegah penyebaran Covid 19, namun melampaui (beyond) itu semua yaitu adanya harapan baru bagi pendidikan Indonesia.

Dimana pendidikan harus dimaknai bukan hanya sekadar soal ujian dan penilaian. Semoga badai ini segera berlalu dan pendidikan Indonesia semakin maju! rmol news logo article

Fahmi Syahirul Alim

Kader muda Muhammadiyah dan peneliti International Centre for Islam and Pluralism (ICIP)

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA