Prabowo menjadi promotor utama Jokowi dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta yang kemudian dimenangkannya. Dari Jakarta, karier politik Jokowi semakin moncer, hingga ia berhadap-hadapan dengan sang mentor dalam Pilpres 2014. Secara mengejutkan, Jokowi keluar sebagai pemenang.
Kedua sahabat itu kembali bertarung dalam Pilpres 2019. Jokowi lagi-lagi membuktikan keunggulannya atas sang mantan mentor.
Pertarungan di tahun 2019 ini berlangsung sangat keras. Melahirkan pembelahan yang sangat serius di kalangan akar rumput.
Bahwa akhirnya Jokowi dan Prabowo kembali menjalin silaturahmi dan kemudian berkoalisi dalam pemerintahan yang bekerja mengejar emas 2045, rasa-rasanya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh tokoh ini: Arief Poyuono.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itulah yang pertama kali berinisiatif untuk mencairkan suasana pasca kemenangan Jokowi di arena Pilpres 2019.
Arief yang juga dikenal sebagai tokoh serikat pekerja menjadi orang pertama di kubu Prabowo yang secara terbuka mengakui kemenangan Jokowi. Dia mengucapkan selamat kepada Jokowi setelah peluit panjang penanda berakhirnya pertandingan.
Arief melakukan pembicaraan dengan Jusuf Kalla untuk menyusun dan menata pondasi rekonsiliasi.
Sejak awal Mei 2019 ia intens berkomunikasi dengan JK, meyakinkan JK bahwa setelah Pilpres justru Indonesia akan memasuki suatu masa yang tidak mudah. Hanya persatuan di antara anak bangsa, juga antara Jokowi dan Probowo, yang dapat membuat Indonesia kuat untuk menghadapi dinamika tersebut.
Ujung dari pembicaraan-pembicaraan dengan JK ini pertemuan Jokowi dan Prabowo di Stasiu MRT Lebak Bulus, 13 Juli 2019.
Setelah Arief Poyuono buka suara menyampaikan arti penting persatuan Jokowi-Prabowo barulah tokoh-tokoh yang lain ikut bersuara dan memberikan dorongan yang lebih besar.
Kalau sekarang kita dapat tersenyum menyaksikan kembali keakraban Jokowi dan Prabowo, maka ingatlah, ada peran besar Arief Poyuono di sana.
BERITA TERKAIT: