Begitu tegas Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menanggapi pemadaman pada Minggu (4/8) siang hingga malam hari.
"Sangat disayangkan terjadinya pemadaman secara serentak, minimal se-Jabodetabek,†ujarnya kepada
Kantor Berita RMOL.
Enny tidak hanya menyoroti masalah kerugian masyarakat yang memanfaatkan listrik sebagai komponen utama usaha, melainkan juga tentang pemberitahuan pemadaman yang tidak dilakukan PLN.
Baginya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan plat merah yang memonopoli setrum di negeri ini tidak memiliki mitigasi risiko yang mumpuni.
“Jika dirunut dengan tidak adanya pemberitahuan terlebih dahulu, menunjukkan betapa rendahnya mitigasi resiko dari PLN," tegasnya.
Seharusnya, sambung Enny, gangguan listrik akibat Gas Turbin 1-6 Suralaya mengalami trip, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas Turbin Cilegon ini bisa diantisipasi. Sebab, dampaknya kompleks dan bersentuhan langsung dengan rakyat.
“Tentu ini berisiko tinggi, tidak hanya terhadap kerugian ekonomi, tapi juga keselamatan masyarakat. Bayangkan MRT di bawah tanah tiba-tiba mati, di lift, matinya lampu lalu lintas. Ini jaringan telekomunikasi juga ikut error," tandasnya.
BERITA TERKAIT: