"Meskipun telah menguasai lebih 60 persen kursi DPR, tampaknya jauh lebih aman jika Koalisi Indonesia Kerja dapat mengajak serta salah satu partai anggota Koalisi Adil Makmur untuk bergabung," ucap analis politik Exposit Strategic, Arif Susanto kepada
Kantor Berita RMOL, Minggu (30/6).
Namun ia mencermati, hanya ada dua parpol dari Koalisi Adil Makmur yang bisa diajak bergabung, yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat.
"Sementara cukup sulit untuk menemukan platform bersama untuk mengajak serta Gerindra dan PKS, peluang lebih baik kerja sama dimiliki oleh Demokrat dan PAN," katanya.
Menurut Arif, PAN memiliki pengalaman bekerja sama dengan setiap pemerintahan sejak 1999. Tapi, dua periode terakhir PAN memiliki masalah dengan konsistensi.
Tak hanya PAN, Partai Demokrat juga dinilai selalu membingungkan posisi politiknya sejak 2014. Karenanya hemat dia, Jokowi harus memperhatikan tiga hal jika ingin mengajak lawan politiknya bergabung dengan pemerintahan lima tahun kedepan.
"Pertama, kehadiran mitra baru tidak mengganggu soliditas kerja sama dalam koalisi," papar Arif.
Yang kedua, mitra koalisi dapat memberikan prioritasnya untuk dapat meningkatkan kinerja pemerintah Jokowi-Maruf selama lima tahun ke depan.
"Ketiga, tidak terjadi saling rebut panggung untuk membuka peluang partai maupun kandidat bersaing pada 2024," tandasnya.
BERITA TERKAIT: