Maka dari itu, dibutuhkan petugas pengatur lalu lintas pesawat atau Air Traffic Controller (ATC) yang cermat.
Begitu kata anggota Ombudsman yang juga pengamat penerbangan Alvin Lie menanggapi pesawat calon presiden Prabowo Subianto yang sempat batal terbang saat akan bertolak ke Banyumas, Jawa Tengah, Senin (1/4) lalu di Halim Perdanakusuma.
"(Kalau) petugas ATC cermat, hal seperti itu tidak mungkin terjadi," tegasnya kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (3/4).
Selain itu, insiden batal terbang tidak akan terjadi jika semua pilot patuh arahan dari petugas ATC.
"Jika semua pilot disiplin patuhi pengaturan oleh ATC (hal seperti itu tidak mungkin terjadi)," imbuhnya.
Adapun pada Senin lalu, pesawat Prabowo sempat batal terbang. Orang dekat Prabowo, yang juga mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen (purn) JS Prabowo menyebut bahwa pesawat Prabowo dihalangi tiga jet tempur.
Tapi Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsma TNI Novyan Samyoga meluruskan.
Baca:
Diluruskan, Pesawat Prabowo Batal Terbang Bukan Gara-Gara SukhoiMenurutnya, pembatalan itu terjadi saat kendali ATC dipegang pegawai yang masih junior.
Saat itu, pesawat CN235 sudah berada di posisi
take off. Lalu setelah itu, pesawat 9HNYC yang ditumpangi oleh Prabowo juga berada dalam posisi
take off.
“Saat pesawat 9HNYC diberikan
release take off juga, kondisinya belum aman, karena pesawat CN235 belum menuju
cross wind (belum belok), sehingga pesawat 9HNYC
abort take off, untuk
safety,†jelas Samyoga.
Pembatalan lepas landas diputuskan oleh senior ATC. Sedang saat pemberian perintah take off kepada 9HNYC dan CN235 kendali pengaturan dipegang oleh seorang yang masih junior.
“Jadi abort-nya 9HNYC karena masalah
safety dan tidak ada hubungan sama sekali dengan Sukhoi,†tegas Samyoga meluruskan.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: