Demikian disampaikan pengamat politik dari The Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo kepada wartawan, Kamis (21/2).
"Penyelenggara MUI DKI Jakarta dan FPI tapi yang diundang adalah Sandiaga Uno, Anies Baswedan, ketua-ketua partai koalisi pendukung 02, saya kira MUI Jakarta sudah masuk ke ranah politis," kata Karyono.
Sekalipun kegiatan tersebut dikemas dengan zikir, istighosah dan doa bersama, dia menilai bahwa kegiatan itu adalah kegiatan politik praktis.
Kemudian, Karyono pun memberikan kritikan kepada MUI DKI agar tetap menjaga netralitas sebagai lembaga dan organisasi keagamaan.
"Harusnya MUI kan netral tidak masuk ke ranah politik. MUI pusat kan sudah bersikap netral, nah mestinya MUI DKI Jakarta ya harus sama sikapnya dengan MUI Pusat," ujarnya.
Jika tidak, dia mengkhawatirkan justru sikap ketua MUI DKI akan merusak legitimasi dari MUI sebagai kelembagaan.
"Saya kira ini menciderai sikap MUI yang bijak, MUI pusat yang sudah on the right track. Tentu saja dengan adanya kegiatan Munajat 212 yang diselenggarakan MUI DKI. Ini kenodai dan rusak image dan lembaga MUI," pungkasnya.
Karyono menduga kegiatan itu semakin menunjukkan kepentingan politik MUI DKI secara pribadi dengan capres tertentu.
"Saya kira MUI pusat harus bisa memberikan teguran kepada MUI Jakarta. Dan MUI jangan masuk ke ranah-ranah politis karena bisa merusak citra lembaga tersebut dan bisa timbulkan keretakan ummat," tutupnya.
MUI DKI Jakarta bersama LDF FPI menggelar acara Malam Munajat 212 di Silang Monas, Jakarta, Kamis (21/2).
Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Maarif sebelumnya mengatakan, acara yang mengangkat tema "Mengetuk Pintu Langit untuk keselamatan Bangsa dan Negara" ini mengundang semua tokoh ulama termasuk tokoh politik dan ketua umum partai politik.
[rus]