Demikian disampaikan pengamat politik dari UIN Jakarta Adi Prayitno dalam diskusi bertema 'Membaca Arah Populisme Islam di Pilpres 2019' di D'hotel, Jakarta, Sabtu (26/1).
Menurutnya, gerakan politik identitas di tengah sistem elektoral dijadikan kaum populisme sebagai retorika. Adi membandingkan persamaan kondisi saat ini di Indonesia dengan Presiden Donald Trump yang membuat jargon Make American Great Again.
"Dan itu hampir mirip-mirip dengan capres kita. Itu retorika populis," ujarnya.
Di Indonesia, retorika populis sebagaimana terlihat dalam Pilkada DKI Jakarta. Di mana, yang dibawa narasi adalah Islam dan nasionalisme.
"Kenapa Islam selalu dibawa-bawa karena Islam itu populis," kata Adi.
Dia menambahkan, anomali politik dini di Indonesia jika gerakan populis kuat maka seharusnya Jokowi tidaklah aman.
"Sentimen politik dan identitas ini kalau kuat harusnya Jokowi tidak 50 persen (elektabilitas), harusnya anjlok. Dan kalau kuat juga yang untung adalah Prabowo, elektabitas naik bukan stuck," demikian Adi.
[wah]
BERITA TERKAIT: