Untuk menjadi seorang presiden tidak butuh kemampuan melainkan hanya kemauan melakukan blusukan di pasar-pasar tradisional.
Demikian diungkapkan politisi PDI Perjuangan Effendi Simbolon dalam diskusi bertajuk 'Ketika Wartawan Membingkai Konflik' dalam peluncuran buku Di Tepi Amu Darya karya Pemimpin Umum
RMOL Network Teguh Santosa di Media Center DPR RI, Jakarta, Kamis (20/12).
"Gue karena gue Kristen saja, coba kalau gue Islam, gue nyalon jadi presiden. Gampang saja jadi presiden ternyata cuma modal masuk-masuk pasar ternyata. Kupikir susah-susah amat," jelasnya.
Untuk menjadi pemimpin di Indonesia, seorang capres juga tidak perlu jasmani yang sehat. Yang penting adalah blusukan dan mau turun ke parit atau got. Perawakan dari capres pun harus sedikit lusuh alias kucel.
"Apa susahnya cuma masuk pasar. Seratus pasar gue sehari datangi, bukan cuma satu dua. Kalau perlu belum buka gue gedor, mana lu. Bukan cuma masuk ke got, gue masuk tiarap sampai ke ujung. Lu juga rugi jadi wartawan, capres sajalah. Tinggal atur ada wartawan di ujung, ada voorijder," papar Effendi yang juga anggota Komisi I DPR.
[wah]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: