Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Posko BPN Pindah, Prabowo Geruduk Kandang Banteng

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/pangi-syarwi-chaniago-5'>PANGI SYARWI CHANIAGO</a>
OLEH: PANGI SYARWI CHANIAGO
  • Selasa, 11 Desember 2018, 14:53 WIB
Posko BPN Pindah, Prabowo Geruduk Kandang Banteng
Bendera PDIP/Net
RENCANA pemindahan posko Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi ke Jawa Tengah adalah sesuatu yang menarik dicermati. Menarik karena Prabowo-Sandi sedang melakukan perang urat saraf (psywar), membunuh, menjinakkan mental lawan di kandang Banteng.

Kalau kita cermati, BPN Prabowo-Sandi sedang melakukan penetrasi dan ekspansi ke jantung lawan. Saya pikir ini adalah sesuatu yang normal, Prabowo-Sandi sedang berupaya memperkecil ketimpangan (margingap) elektoral di Jawa Tengah.

Paling tidak mencoba mengimbangi suara Jokowi di Jawa Tengah, syukur-syukur kalau menang, dan sulit memang karena medannya nggak mudah, punya tantangan tersendiri. Namun sepertinya BPN Prabowo-Sandi sedang melakukan cek ombak (testing the water).

Pada Pemilu 2014, perolehan suara Jokowi-JK jauh lebih unggul sebesar 12.959.540 (66,65 persen) dibandingkan suara Prabowo-Hatta sebesar 6.485.720 (33,35 persen).

Dalam strategi pendekatan polical marketing kita mengenal penentuan peta wilayah zonasi pemenangan berdasarkan aspek pemilih paling potensial yang terdiri dari variabel kepadatan penduduk, konsentrasi pemilih. Saya ingin katakan, Jawa jadi rebutan karena jumlah penduduknya besar dan padat, sehingga suara pemilih Jawa menjadi penentu.

Pertama, zona pertempuran primer, ini menjadi zona wilayah prioritas utama seperti Jawa Tengah. Kedua, zona pertempuran sekunder, jelas ada target minimal yaitu bagaimana mengimbangi suara Jokowi agar Prabowo tidak kalah telak, belajar dari kekalahan telak Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 di  Jawa Tengah.

Sementara itu, agenda optimal adalah unggul dan memenangkan pertarungan Pilpres 2019. Ketiga, zona pertempuran tersier, yaitu bukan zona utama kampanye, maksudnya adalah wilayah prioritas terakhir. Oleh karena itu, pembacaan skala prioritas harus tuntas diselesaikan capres dan cawapres.

Kita sepakat bahwa Jawa adalah kunci, memenangkan kantong suara Jawa otomaticly memenangkan pilpres 2019. Prabowo harus kembali menghitung dan meng-kalkulasi ulang faktor kekalahannya di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada Pilpres 2014.

Secara sederhana saya ingin katakan begini, sekali lagi, memenangkan pilpres kuncinya adalah memenangkan Jawa. Tak bisa dipungkiri memenangkan kantong suara Jawa seperti provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan Banten menjadi zonasi pertarungan primer masing-masing pasangan capres dan cawapres.

Prabowo sepertinya ingin mengulangi sejarah yang sama, bagaimana daya kejut Sudirman Said mampu mengimbangi Ganjar Pranowo pada pilkada 2017, walaupun tidak menang. Salah satu faktornya kita bisa lihat dari pendekatan “patron klien”, yaitu menganalisis karakter pemilih Jawa yang manut sama kiyai.

Barangkali itu alasan menggapa Ganjar mengambil Gus Yasin anak kiyai Ma’mun Zubeir dan Sudirman Said mengandeng Ida Fauziyah yang juga punya posisi strargis sebagai ketua umum Fatayat NU dan kader Muslimat NU. Saya mencermati, Prabowo Sandi mencoba kembali melakukan pendekatan khusus dengan maintenance simpul ulama dan kiyai di Jawa Tengah.

Jawa Tengah memang sudah menjadi rahasia umum kita mendengar bahwa Jawa Tengah adalah kandang Banteng. Kalau kita lihat dari perspektif tringulasi pemilu misalnya ada tiga variabel penting untuk in-zoom membaca dan melihat fenomena ini; pertama, figur (person); kedua, efektifitas mesin partai dan ketiga, membaca trend perilaku pemilih.

Kalau kita analis dari perspektif trend perilaku pemilih misalnya, Jawa Tengah pemilih generasi tua generasi X adalah termasuk kategori pemilih ideologis, trah Soekarnoisme, nasionalis menjadi pertimbangannya dalam memilih dan partai ID yaitu pengaruh ideologis yang punya sejarah dan kedekatan khusus dengan partai PDIP yang sering kita sebut partai ID.

Dengan demikian dapat kita katakan bahwa Jawa Tengah pemilih emosional itu masih cukup besar. Faktanya memang dalam sejarahnya PDIP belum pernah kalah di kandang Banteng Jawa Tengah.

Namun pemilih generasi Z, melenial yang sudah terkontaminasi gawai internet, memiliki banyak sumber informasi. Segmen pemilih ini ada celah digarap tim Prabowo di Jawa Tengah, saya pikir ceruk segmen pemilih ini sangat potensial dan menjadi peluang bagi Prabowo.

Ini menjadi tantangan tersendiri dan unik bagi Prabowo, apakah mampu dan berhasil melakukan zona market di Jawa Tengah? memperluas basis dan melakukan penetrasi dan mengusik kandang Banteng.

Namun dengan catatan, perluasan basis pemilih tetap memperhatikan dan menjaga basis utama ( gatekeeper) jangan sampai kebobolan di wilayah basis sendiri ketika fokus ke zona pertempuran basis lawan.

Tim Jokowi-Ma’ruf tidak perlu reaktif melihat dan merespon fenomena ini, karena hal yang sama juga dilakukan Jokowi dengan lebih agresif dan massif  mengunjungi, menyalami, menyapa dan mendapat perhatian khusus dari presiden Jokowi terutama penetrasi zonasi pada basis Prabowo seperti Jawa Barat dan Sumatera Barat.

Pemindahan posko pemenangan Prabowo apakah bakal meng-usik kandang banteng? Saya melihat ini positif bagi team pemenangan Jokowi dan parpol koalisi pendukung. Paling tidak tim pemenangan Jokowi, relawan dan tim sukses di grassroot makin solid, karena lawan sudah di depan.

Menurut pembacaan saya, PDIP, PKB, PPP, Nasdem dan Golkar akan merapat barisan dan kubu Jokowi tetap mendominasi di Jawa Tengah. Minusnya adalah, memenangkan opini publik, kalau Gerindra dan Prabowo mampu mengimbangi permainkan di kandang lawan itu relatif sudah positif sehingga sangat mudah memenangkan kontestasi elektoral di kandang sendiri.

Dengan demikian, mendatangi pemilih di luar basis sendiri adalah suatu hal yang normal dan wajar. Kubu Prabowo-Sandi barangkali menyadari betul berkampanye di basis sendiri tidak akan menambah suara. Namun tetap menjaga gawang dibasis sendiri pada saat yang sama melakukan perluasan basis dan penatrasi di kandang lawan.

Saya hakkul yakin, baik kubu Prabowo maupun kubu Jokowi sadar dan tahu betul di mana basis massa masing- masing dan di mana titik lemah mereka.

Mengutip strategi Sun Tzu yang mengatakan bahwa “siapa yang mengenal kelemahan dan kelebihan musuh, mengenal kelemahan dirinya dan mengenal wilayah medan perang, maka besar kemungkinan berkali-kali memenangkan sebuah perperangan”.

Barangkali arsitektur pemenangan ini yang sedang disiapkan masing- masing tim capres dan cawapres salah satunya adalah memindahkan posko BPN Prabowo-Sandi  ke kandang Banteng dengan segala konsekuensi logisnya. [***]

Penulis adalah analis politik, yang juga Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA