Hal itu disimpulkan Gerakan Perjuangan Anti Diskriminasi (GANDI) dalam diskusi bertajuk "Politisasi SARA Dalam Pilkada" di Cikini, Jakarta, Jumat (11/5).
"Saya setuju Pilkada DKI jadi keberhasilan politik SARA, semua sudah memahami itu," ungkap peneliti GANDI, Chusdarmawan Hidayat, usai diskusi tersebut.
Menurut Chus, biasa ia disapa, fenomena politik SARA menjelang Pilkada DKI 2017 terlihat dalam isu jenazah tidak disalatkan karena mendukung kandidat Basuki Purnama (Ahok) dan persekusi dari kelompok tertentu.
Ia akui, pengutipan Al Maidah 51 oleh Basuki yang masih menjabat Gubernur DKI saat itu menjadi pemantik politik SARA yang dari sebelumnya sudah terasa kentara.
"Kalau tidak ada fenomena Al Maidah 51 pasti nanti akan dikaitkan dengan surat lain," bebernya.
Ia berharap politisasi SARA tidak terjadi dalam masa Pilkada Serentak 2018. Ia mengendus saat ini ada upaya mengulang hal serupa untuk kepentingan pemenangan calon.
"Semoga nanti tidak terjadi lagi seperti di Jakarta. Di sini Bawaslu harus tegas," tegas dia.
[ald]