Demikian pendapat Direktur Riset Demokrasi dan Isu Politik Universitas Telkom, Dedi Kurnia.
"Tentu dalam hitungan politik, PA 212 punya pengaruh meskipun tidak signifikan, Jokowi mengkomunikasikan pesan bahwa dirinya lebih baik berdamai dengan arus," ujarnya kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (28/4).
Menurutnya yang menjadi persoalan adalah pertemuan PA 212 dengan Jokowi berlangsung secara tertutup, sehingga menimbulkan isu yang kurang sedap.
"Ini tidak baik dan bisa saja bergulir isu Jokowi gunakan kekuasaan untuk lobi-lobi politik praktis untuk dukungan Pemilu 2019. Seharusnya, terbuka saja toh tidak ada yang salah dengan pertemuan ini," imbuhnya.
Presiden Jokowi kembali bertemu dengan para tokoh dan ulama Alumni 212 di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/4).
Hadir dalam pertemuan itu, Ketua Umum Parmusi KH. Usamah Hisyam, Ketua Umum GNPF Ulama KH. Yusuf Martak, Ketua Umum PA 212 Ustad Slamet Maarif, Dewan Syuro Adz-Dzikro KH. Rouhdul Bahar, Sekjen FUI KH. Muhammad Al-Khaththath, dan Ketua Umum FPI KH. Ahmad Sobri Lubis.
[wid]