Menurut dia, saat ini para aktivis lebih memilih untuk menjadi aktivis media sosial (medsos) ketimbang turun langsung ke jalan. Contohnya, saat demo ribuan nelayan cantrang di sekitaran Istana Negara.
"Saya heran, maaf kata, kemarin ketika ribuan nelayan cantrang turun ke jalan, satupun tidak ada aktivis. Ternyata aktivis sekarang lebih suka koar-koar di sosmed. Ketika ribuan nelayan turun ke jalan dekat istana, tidak ada satupun aktivis yang turun," tegasnya dalam diskusi Ngopi Ngerumpi bertajuk "Media Sosial Versus Media Mainstream di Era Gerakan Politik Zaman Now" yang dimoderatori oleh Ricky Tamba di Kantor ILEW, Jalan Veteran I, nomor 33, Jakarta Pusat, Selasa (17/4).
Parahnya lagi, yang dibicarakan di medsos oleh para aktivis bukanlah lagi masalah substansial membela kepentingan rakyat. Tapi malah membicarakan soal kekuasaan dan isu-isu lainnya.
"2018 ini adakah seorang aktivis turun ke jalan untuk membela kepentingan rakyat, mana? Ga ada," sulut Arya.
"Mana aktivisnya. Jangan cuma diskusi disini. Senin, Selasa Rabu. Jakarta zaman Ahok (mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama) enggak ada yang kritik, takut di bully. Zaman dulu Soeharto aja kita lawan. Masa sekarang kita takut dibully," sesal orang dekat Harry Tanoesoedibjo ini.
Mendengar itu, salah seorang audien diskusi menilai Arya membakar semangat aktivis untuk kembali turun ke jalan melawan kebijakan pemerintah yang tak membela rakyat.
"Kompor," sebut audiens tersebut.
[sam]
BERITA TERKAIT: