Terlebih pertemuan itu terjadi saat kampanye akbar pertama pasangan Kofifah Indar Parawansa-Emil Dardak.
"Tidak ada pertemuan dua jam atau pertemuan khusus. Pertemuan di atas panggung kampanye itu tentu adalah pembicaraan yang sifatnya umum dan tidak akan detil terkait sikap Partai Demokrat," tegas Kepala Divisi Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean dalam keterangannya, Kamis (5/4).
Pihaknya meyakini Romy berasumsi dan menyimpulkan sendiri bahwa seolah Demokrat akan mendukung Jokowi.
"Ketua Umum kami Pak SBY selalu menyampaikan kepada kami bahwa Demokrat belum saatnya menentukan sikap, sehingga semua opsi masih terbuka bagi Demokrat," ulasnya.
Ferdinand menegaskan, sikap resmi partai untuk Pilpres 2019 baru akan ditentukan sekitar bulan Juli atau pasca Pilkada serentak.
"Mungkin pak Romy melihat dari sudut pandang pendukung Jokowi, sehingga berasumsi bahwa Demokrat akan dukung Jokowi," tengarainya.
Menurut dia, kemungkinan yang ada Partai Demokrat mendukung Jokowi, bisa juga sebaliknya atau akan lahir poros baru. "Kita tunggu saja nanti bahwa waktu akan menjawab. Tapi yang pasti, Demokrat akan mendukung yang terbaik untuk rakyat," tutup Ferdinand yang juga jurubicara Partai Demokrat.
Sebelumnya, Romahurmuziy mengatakan telah mengajak Demokrat bergabung mendukung Jokowi. Namun, ajakan tersebut belum direspon secara resmi oleh SBY. Ia hanya menyebut SBY mengapresiasi sejumlah kebijakan Jokowi sebagai presiden. Apresiasi itu, ia nilai sebagai sinyal SBY bakal mengarahkan Demokrat mendukung Jokowi.
[wid]
BERITA TERKAIT: