Demikian disampaikan Wakil Ketua DPR
Fadli Zon terkait dengan 89 tahun peringatan Sumpah Pemuda, dalam
keterangannya beberapa saat lalu (Sabtu, 28/10).
Fadli Zon mengingatka bahwa semua elemen bangsa harus menyadari
jika persatuan butuh dirawat. Dulu, tantangan untuk membangun persatuan
adalah perbedaan suku, adat, agama dan bahasa. Namun, dengan visi dan
kebesaran hati para pendahulu, mereka kemudian berhasil melampaui semua
perbedaan tadi, sehingga akhirnya kita bisa dipersatukan menjadi sebuah
bangsa.
Kini, sambung Fadli, tantangan merawat
persatuan telah berubah. Tantangan persatuan pada hari ini adalah
ketidakadilan dan ketimpangan. Setiap kali membiarkan terjadinya
ketidakadilan, baik politik, hukum, ataupun ekonomi, maka sebenarnya
sedang melonggarkan ikatan persatuan. Menurut studi Amy Chua, sebuah
sistem yang hanya dikuasai oleh sekelompok kecil masyarakat memang akan
melahirkan konflik dan instabilitas.
"Jadi,
kalau dulu problem persatuan kita lebih bersifat kultural, maka kini
problemnya menjadi bersifat struktural. Itu sebabnya kita harus
memperhatikan isu keadilan dan kesetaraan secara serius, karena
pertaruhannya bisa sangat mahal," tegas Fadli.
Masalah ketimpangan, Fadli menjelaskan, bukan hanya semata masalah
ekonomi, namun bisa mendatangkan masalah bagi persatuan. Dari pengalaman
masa lalu, bahwa setiap kali jurang ketimpangan ekonomi menganga, maka
pada saat itu juga kohesi sosial melemah.
"Masalahnya, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, berbagai data
menyebutkan jika pertumbuhan ekonomi kita sebenarnya hanya
menguntungkan 20 persen warga terkaya saja, di mana 80 persen sisanya,
yang mencakup sekitar 205 juta penduduk, tetap tertinggal di belakang.
Pertumbuhan pendapatan 10 persen orang terkaya Indonesia tiga kali
lipat lebih cepat ketimbang pertumbuhan 40 persen warga termiskin,"
ungkap Fadli.
Itu sebabnya, lanjut Fadli, dalam
rentang 2013 hingga 2015 yang lalu, angka koefisien gini Indonesia
mencapai 0,41, sebuah rekor ketimpangan tertinggi sepanjang sejarah.
Tahun ini, angka koefisien gini memang turun ke angka 0,39, tapi karena
kelas menengah menurun income dan konsumsinya, dan itu bukan realitas
yang bagus.
Sehingga, bagi pemerintah tema
peringatan Hari Sumpah Pemuda seharusnya bukanlah ‘Berani Bersatu’, tapi
‘berani adil’ dan ‘berani mengatasi ketimpangan’.
"Satu lagi, perbedaan suku, agama, ras dan lainnya selalu menjadi
kekuatan di tangan pemimpin yang kuat dan adil. Tapi hal itu bisa jadi
ancaman di tangan pemimpin yang lemah dan tak adil," demikian Fadli Zon. [mel]