Tahun Ketiga, Hanya 23 Persen Pemberitaan Negatif Pemerintahan Jokowi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Jumat, 20 Oktober 2017, 05:10 WIB
Tahun Ketiga, Hanya 23 Persen Pemberitaan Negatif Pemerintahan Jokowi
Joko Widodo/Net
rmol news logo . Nilai rapor kinerja pemerintahan Presiden RI Joko Widodo pada tahun ketiga di mata media massa lokal dan nasional mencapai 7,7 dari penilaian 0 sampai 10.

Demikian kesimpulan Indonesia Indicator (I2), sebuah perusahaan di bidang intelijen media, analisis data dan kajian strategis dengan menggunakan software AI (Artificial Intelligence)

"Angka tersebut didasarkan atas framing sentiment judul pemberitaan media. Angka 7,7 berasal dari penjumlahan sentimen netral dan positif, dikurangi sentimen negatif dari seluruh judul pemberitaan Jokowi," ujar Direktur Komunikasi I2, Rustika Herlambang dalam hasil riset bertajuk 'Rapor Biru Rapor Merah Presiden Jokowi: Analisis Media Online Berbahasa Indonesia, Oktober 2016-Oktober 2017', Jumat (20/10).

Menurut Rustika, sebuah judul mencerminkan sebuah angle berita. Sementara angle berita adalah sudut pandang media terhadap sebuah peristiwa tertentu. Dalam hal ini, riset ini untuk melihat bagaimana media memberikan angle terhadap segala hal mengenai aktivitas, kebijakan, langkah yang dilakukan, hingga pembicaraan figur lain terhadap Jokowi.

"Secara keseluruhan, judul pemberitaan media menunjukkan sentimen positif netral sebesar 77 persen, dan negatif sebesar 23 persen, dari angka 1-100, atau 7,7 dalam skala 1-10," ungkap Rustika dalam keterangan tertulisnya.

Secara umum, dalam satu tahun terakhir ini Jokowi memperoleh penilaian yang cukup positif dari media. Hal itu, kata dia, terlihat dari sentimen media yang lebih banyak menampilkan apresiasi sebesar 36 persen kepada Presiden dibandingkan dengan yang menilai sebaliknya 23 persen.

"Dengan demikian, terdapat positive centiment gap di media sebesar 13 persen. Sementara itu, sentimen pemberitaan media yang tergolong netral mencapai 41 persen. Sentimen semacam ini sesungguhnya menggambarkan bahwa suara publik yang diwakili media masih menaruh harapan pada presiden," kata Rustika. Positive centiment gap ini juga meningkat dari minus 5 di tahun 2015, 10 di tahun 2016, dan 15 di tahun 2017 hingga bulan Oktober ini.

Sepanjang tahun ketiga, pemberitaan mengenai Jokowi pada 1.420 media daring nasional mencapai 409.887 berita. Rata-rata pemberitaan mengenai Jokowi, sebanyak 34.158 berita per bulan. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pemberitaan terbilang relatif stabil dalam setahun terakhir. Menurut Rustika, kestabilan ini juga menunjukkan bahwa dari sisi pemberitaan, Jokowi dianggap mampu untuk menjaga situasi negara dengan baik, meskipun terjadi banyak peristiwa politik, khususnya, yang terjadi di sepanjang tahun ketiga.

Dari seluruh pemberitaan mengenai Jokowi dalam satu tahun terakhir, isu politik dan keamanan mengambil porsi yang lebih besar yakni mencapai 39 persen, dibanding isu ekonomi 31 persen, hukum 17 persen, dan sosial budaya 13 persen. Dominasi pemberitaan ini, tutur Rustika, bergeser dari  2015 yang pada awalnya lebih banyak diisi oleh berbagai isu di bidang ekonomi.

Seperti terlihat melalui 10 isu terbesar yang muncul setahun terakhir adalah aksi demonstrasi, safari politik, pemberantasan korupsi, infrastruktur, pilkada, investasi, pariwisata, pendidikan, serta penegakan HAM.

Kuatnya isu polkam ini juga ditunjukkan melalui 10 nama terbesar yang paling banyak dikaitkan dengan Jokowi, sembilan diantaranya berurusan dengan wilayah politik keamanan. Mereka adalah Basuki Tjahaja Purnama, Jusuf Kalla, Tito Karnavian, Gatot Nurmantyo, Susilo Bambang Yudhoyono, Pramono Anung, Wiranto, Pratikno, dan Megawati Soekarnoputri. Satu nama lainnya adalah Iriana Joko Widodo.

Sementara itu, pengembangan infrastruktur, investasi dan pariwisata merupakan isu-isu bidang ekonomi yang masuk dalam 10 isu terbesar mengenai Jokowi. Berbeda dengan isu di polkam, bidang ekonomi mengambarkan penilaian yang cenderung positif dari media. "Ada semacam harapan yang muncul di media bahwa Jokowi dapat menata ekonomi Indonesia sekalipun problematik yang terbentang tergolong tidak ringan," ujar Rustika.

Hal yang menarik adalah masuknya nama Arief Yahya sebagai satu-satunya dari 10 influencers terbesar Jokowi yang berasal dari bidang polkam, berada di posisi lima. Ia bersanding dengan influencers (figur yang paling sering dikutip dalam pemberitaan Jokowi) lain dengan urutan sebagai berikut: Gatot Nurmantyo, Wiranto, Tito Karnavian, Tjahjo Kumolo, Pramono Anung, Fahri Hamzah, Susilo Bambang Yudhoyono, Retno Marsudi dan Fadli Zon.

Di sisi hukum, pemberantasan korupsi dan penegakan HAM merupakan salah satu isu yang terus dikawal keberadaannya. Termasuk diantaranya adalah kasus Munir, yang hampir selalu hadir di setiap tahun. Sementara itu dalam bidang sosial, Jokowi mendapat porsi terbesar terkait dengan pendidikan dan layanan kesehatan. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA