Menurut geolog senior Rovicky Dwi Putrohari, udara begitu panas karena fenomena Equinox.
Dalam halaman Facebook miliknya, Rovicky mengatakan bahwa Equinox adalah fenomena astronomi yang terjadi ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Fenomena ini terjadi dua kali dalam setahun.
“Pada saat fenomena ini berlangsung, durasi siang dan malam di seluruh bagian Bumi relatif hampir sama, termasuk pada wilayah subtropis di bagian utara maupun selatan,†tulisnya.
Suhu udara menjadi panas. Bahkan di beberapa tempat mencapai suhu 37,5 C.
Disebutkan Rovicky, bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut, antara lain adalah gerak semu matahari yang saat ini berada di sekitar khatulistiwa, sehingga radiasi matahari yang masuk cukup optimum.
“Hal ini ditandai dengan hasil monitoring suhu udara maksimum berkisar antara 34,0 sampai 37,5 °C,†tulisnya lagi sambil menambahkan bahwa rentang suhu ini masih dalam kisaran normal suhu maksimum yang pernah terjadi berdasarkan data klimatologis 30 tahun.
Penyebab lain adalah aliran massa udara dingin dan kering yang bergerak dari Australia menuju wilayah Indonesia sebelah selatan khatulistiwa terutama di sekitar Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
“Kondisi ini ditandai dengan adanya kelembaban udara yang lebih kecil 60 persen di ketinggian 3.000 meter dan 5.000 meter dari permukaan,†demikian Rovicky.
[dem]
BERITA TERKAIT: