Akibatnya jelas mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu, tercipta ketidakadilan di tengah-tengah masyarakat.
Mahfud menyontohkan, saat ini sebanyak 0,04 persen pemilik uang di bank uangnya jauh lebih besar dari 47 persen pemilik uang di masyarakat.
Karena itu, kata Mahfud, ke depannya nasionalisme ‎kita harus dibangun berbasis pada keadilan. Sehingga tidak ada lagi masyarakat yang dirugikan akibat kebijakan yang diatur negara.
"Bangsa Indonesia boleh saja dikatakan miskin. Tapi masih bisa menerima jika miskin bersama, namun bila dimiskinkan oleh koruptor, hal itu akan menimbulkan konflik dimana-mana. Karena itu pemerintah harus mengambil langkah agar penipu-penipu yang menyebabkan ketidakadilan itu ditangani secara sungguh-sungguh," tegasnya.
Demikian diungkapkan Mahfud FD dalam dialog nasional rangkaian HUT ke 51 KAHMI bertema 'Mewujudkan Keadilan, Menyatu Dalam Kebhinnekaan' di gedung Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (20/9).
Mahfud pun mengingatkan, bila kebhinnekaan ingin bersatu maka keadilan itu harus ditegakkan.
"Itu yang mau diserukan KAHMI dalam berkhidmat kepada negara dan bangsa ini," pungkasnya.
Dalam acara dialog nasional KAHMI, hadir sebagai pembicara Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) Halim Alamsyah. Para tamu undangan yang hadir diantaranya Ketua MKD DPD RI A.M Fatwa, Anggota Komisi IV DPR RI Viva Yoga dan Anggota Komisi III DPR RI Raden Muhammad Syafi'i.
[rus]
BERITA TERKAIT: