Dampaknya justru dirasakan para pekerja Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan JICT. TKBM sangat tergantung dengan kapal yang masuk.
"Berkurangnya aktivitas bongkar muat berarti berkurang juga pemasukan kami," kata mandor pekerja TKBM, Yudi.
"Kami itu bekerja tergantung kapal yang masuk, mogok kerja SP JICT berdampak negatif terhadap penghasilan kami," tegasnya.
Yudi mengaku upah yang diterimanya jauh di bawah upah pekerja JICT yang kini sedang mogok.
"Upah kami Rp 175 ribu sampai Rp 227. 500 per orang per shift (per 1 Maret 2017) sementara upah pekerja SP JICT sekitar 50 jutaan per bulan," sebutnya
Keluhan senada diutarakan kordinator lapangang TKBM, Warja. Seharusnya kata dia, para pekerja JICT mempertimbangkan kondisi buruh TKBM.
"Kami buruh kecil, tak ada kapal tak ada uang masuk, jangan diajak ikut berkorban lah demi pekerja yang sudah mapan, anak istri kami terganggu makannya, kalau begitu solidaritas pekerja tak ada, omong kosong," kesalnya.
Di satu sisi ia lega karena perusahaan JICT bersedia membayar upahnya dan rekan-rekan TKBM senasib untuk tujuh hari ke depan.
"Kami sangat berterima kasih atas pengertian manajemen JICT yang memperhatikan keluarga kami. Harapan kami mogok segera selesai lah biar kami dapat bekerja lagi dengan normal," tuturnya.
[ian]