Pertemuan kedua purnawirawan jenderal itu digelar di pendopo rumah SBY, di Puri Cikeas, Bogor.
Kabar pertemuan mereka menyedot perhatian media massa. Sejak sore, puluhan wartawan dari media cetak, online dan eletronik berkerumun di depan gerbang pendopo. Namun mereka tak bisa masuk ke pendopo karena sang empunya rumah belum ada di tempat.
Baru ba'da Maghrib, satu persatu petinggi Demokrat tiba di lokasi. Sekjen Hinca Panjaitan tiba lebih dulu. Menyusul kemudian Ketua Dewan Kehormatan Amir Syamsuddin, Roy Suryo, Syarief Hasan dan Jafar Hafsah. Para pengurus yang hadir ini kemudian ngobrol-ngobrol di halaman pendopo sambil menikmati hidangan yang ada.
Jamuannya adalah nasi goreng. Dua gerobak nasi goreng dan satu gerobak bakso malang yang biasa mangkal tak jauh dari sana, sengaja dipesan untuk menjamu para tamu dan wartawan. "Diplomasi teh sudah biasa. Sekarang eranya diplomasi nasi goreng," begitu kelakar seorang pengurus Demokrat. Diplomasi teh yang dimaksud mungkin adalah jamuan minum teh yang biasa dilakukan Presiden Jokowi saat menjamu tamunya di beranda Istana. Nama kerennya Veranda Talk.
Pukul delapan tepat, hujan besar turun tiba-tiba. Gerbang pendopo yang ditutup akhirnya dibuka. Hujan yang turun sebentar itu menyejukkan suasana. Saat itu, SBY sendiri belum ada di rumah karena masih menghadiri acara bersama kedutaan besar Amerika. SBY baru pulang sekitar pukul 20.20 WIB.
Sepuluh menit kemudian, Prabowo tiba di lokasi dalam balutan batik dengan menumpang Lexus putih. Para petinggi Gerindra ikut mendampingi. Terlihat misalnya, Sekjen Ahmad Muzani, Waketum Fadli Zon. Ada juga Edhy Prabowo. Terlihat juga adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo. Rombongan disambut para pengurus Demokrat lalu duduk di pendopo. Ada pun Prabowo lanjut ke dalam rumah SBY melalui pintu penghubung. Sebentar saja, SBY dan Prabowo muncul lagi di pendopo. Di sini, Prabowo kemudian cipika cipiki dengan putra SBY, Agus Harimurti Yudhoyono sambil menepuk-nepuk bahu.
SBY yang tampil dengan kemeja biru lengan panjang kemudian mempersilakan tamunya duduk di meja makan bundar yang sudah dilingkari 6 kursi. SBY dan Prabowo duduk di tengah. Samping kanan SBY ada Hinca Panjaitan dan Syarif Hasan. Sementara di samping kiri Prabowo ada Ahmad Muzani dan Fadli Zon. Tak jauh dari meja itu, ada gerobak nasi goreng ngawi. Penjualnya sedang asik memasak. SBY dan Prabowo asik mengobrol.
Pemandangan ini memang mengingatkan gaya Jokowi menjamu tamunya di beranda Istana. Bedanya, di Cikeas jarak antara wartawan dengan meja makan begitu dekat. Sekitar 8 meteran. Jarak yang cukup membuat obrolan yang ada di meja makan SBY dengan tempat wartawan menunggu, sayup-sayup terdengar.
Tiga menit berselang, pelayan muncul membawa hidangan nasi goreng. "Teman-teman wartawan silakan yah. Dinikmati hidangan yang ada," kata SBY. Setelah semua sudah kebagian, SBY kemudian mempersilakan para tamu menikmati makanan. "Saya izin (makan) dulu yah. Nanti ada join conference," kata SBY, mempersilakan wartawan juga menikmati hidangan.
Setelah makan, SBY mengajak Prabowo dan rombongan ke kediamannya untuk melakukan pertemuan tertutup. Sejam berselang, keduanya muncul untuk menyampaikan hasil pertemuan. Para pengurus Demokrat dan Gerindra berdiri dalam formasi di belakang kursi SBY dan Prabowo.
SBY duluan bicara. SBY memulai dengan menyatakan niat dan tujuan pertemuan ini baik. SBY juga menyatakan sebenarnya pertemuan ini biasa saja. Tak ada yang luar biasa. "Pak Prabowo sering bertemu dengan Presiden Joko Widodo, begitu pula saya. Jadi pertemuan antar tokoh ini biasa," kata SBY.
Yang luar biasa, sambung SBY, karena sepekan sebelumnya Demokrat dan Gerindra bersama PAN dan PKS berada di satu gerbong yang sama menolak RUU Pemilu yang salah satu isinya mengatur syarat capres 20-25 persen. Dalam kesempatan itu, SBY menyebut Demokrat dan Gerindra berada dalam "satu kubu dengan tanda kutip," katanya.
Dengan tutur kata yang tertata dan sistematis, SBY yang berbicara sambil memegang secarik kertas berisi catatan penting merinci berbagai hal serius.
Intinya, SBY mengatakan Demokrat dan Gerindra akan terus mengawal negara ini. Agar berjalan ke arah yang benar. Bentuk pengawalannya, melalui politik dan juga gerakan moral. Gerakan moral akan muncul ketika perasaan rakyat yang dicederai. "Kalau rakyat perasaannya, kepentingannya aspirasinya, tidak didengar oleh negara, maka wajib hukumnya kita mengingatkan. Kita memberikan koreksi. Sah," kata SBY. Ia pun memastikan gerakannya itu akan bertumpu pada nilai-nilai demokrasi.
SBY bilang, terus mengikuti perkembangan negara. SBY mengingatkan bahwa power must not go uncheck. "Artinya, kita kami harus memastikan penggunaan kekuasaan oleh para pengguna kekuasan tidak melampaui batas. Sehingga masuk abuse of power," tuntasnya.
Mendapat giliran kedua. Prabowo lugas dan blak-blakan. Meski diawali dengan guyonan soal jamuan yang dihidangkan SBY. "Nasi goreng yang luar biasa enaknya. Menyaingi nasi goreng Hambalang. Intelnya SBY ternyata masih kuat. Tahu saja, begitu dikasih nasi goreng, Prabowo akan ikut ke mana saja," ujarnya, disambut tawa. Mungkin hadirin teringat nasi goreng hambalang yang dimaksud adalah saat menjamu Jokowi yang berkunjung ke Hambalang beberapa waktu lalu.
Sama seperti SBY, Prabowo mengaku cemas dengan kondisi negara saat ini. Prabowo juga kecewa dengan disahkannya presidential threshold 20 persen yang menurutnya mengkhianati akal sehat. "Menyakiti kemampuan berpikir rakyat. Ini sangat mencemaskan," ujarnya. Berangkat dari kecemasan itu, ia bilang, Gerindra dan SBY akan terus mengingatkan pemerintah. "Setiap kekuasaan harus diawasi dan ini inti dari demokrasi aman dan adil. Tak mungkin ada kesejahteraan tanpa keadilan," ujarnya.
Pertemuan diakhiri dengan foto bersama antara SBY dan Prabowo dalam pose salam komando. pose ini disambut hadirin dengan tepuk tangan meriah. "SBY Prabowo bersatu," teriak yang hadir memberi semangat.
Mencermati pertemuan itu, pengamat politik dari UIN Pangi Syarwi Chaniago menilai ini sebagai sebuah penjajakan awal, sekaligus pemanasan menghadapi Pilpres 2019. "Terlalu awal jika sudah membicarakan koalisi. Ini adalah sinyal politik dalam merespons Undang-undang Pemilu," kata Pangi, tadi malam.
Menurut dia, pertemuan ini adalah tanda sudah ada kepentingan yang sama antara dua partai besar. Komunikasi politik tadi malam, paling tidak memperjelas arah dua partai tersebut ke depan. Meski belum ada kesepakatan koalisi, Pangi memprediksi jalan ke arah sana sangat terbuka. Ibarat petani, pertemuan tadi malam adalah investasi jangka panjang. "Hasilnya bisa dipanen nanti di 2019," ujarnya. ***
BERITA TERKAIT: