Ibarat Perusahaan, Sri Mulyani Hanya Perketat Anggaran Tak Mampu Naikkan Omzet

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/abdulrachim-k-5'>ABDULRACHIM  K</a>
OLEH: ABDULRACHIM K
  • Sabtu, 08 Juli 2017, 01:21 WIB
Ibarat Perusahaan, Sri Mulyani Hanya Perketat Anggaran Tak Mampu Naikkan Omzet
Sri Mulyani/Net
SEPERTI diketahui bahwa langkah pertama yang diambil oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sejak menjabat pada akhir Juli 2016 adalah memotong anggaran. Anggaran yang dipotong sebesar Rp 133,8 triliun padahal Menkeu sebelumnya Bambang Brodjonegoro juga telah memotong anggaran sebesar Rp 50,02 triliun. Jadi total potongan untuk APBN 2016 adalah Rp 183,82 trilyun.

Pemotongan-pemotongan anggaran ini telah mengakibatkan kelesuan ekonomi yang sangat terasa dampaknya di lapangan dan mempunyai efek yang berantai. Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey, sampai bulan Mei 2017, penjualan ritel masih mengalami penurunan sampai 35-40 persen dibandingkan dengan 2016. "Kondisi mengkhawatirkan ini pernah dialami pada 2009," katanya.

Pedagang pakaian Blok A Tanah Abang Betty mengatakan omset penjualan menjelang Lebaran tahun ini turun hingga hanya mencapai 35 persen dari Lebaran tahun lalu . Kemerosotan ini dialami merata di Blok A, B, F. Kebangkrutan gerai ritel Seven Eleven juga merupakan indikator kelesuan ekonomi. Dulu anak-anak muda mempunyai uang Rp 35-50 ribu bisa membeli kopi dan membeli kue kemudian nongkrong lama sambil menikmati wifi gratis. Tetapi lama kelamaan mereka hanya punya uang Rp 15 ribu, beli kopi, nongkrong tetapi tidak beli kue. Makanya Sevel omsetnya mengecil dan bangkrut.

Banyak indikator-indikator lain yang juga menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi pada saat Lebaran 2017 menurun dibandingkan dengan Lebaran 2016. Misalnya penjualan Avgas (bahan bakar untuk pesawat terbang), jika saat Lebaran 2016 naik sampai 8 persen pada 2017 hanya naik 3 persen, kurang dari separuhnya. Penjualan extra tiket untuk Kereta Api Lebaran 2017 hanya laku 20 persen daripada 2016. Menurun jauh karena daya beli masyarakat menurun.

Namun sebaliknya, di satu sisi, Sri Mulyani memotong anggaran APBN 2016 Rp 133,8 triliun setelah Menkeu sebelumnya Bambang Brodjonegoro memotong Rp 50,02 triliun sehingga membuat ekonomi lesu, tetapi di sisi lainnya tidak ada inisiatif sama sekali untuk membuat kebijakan-kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Sehingga hasil akhirnya hanya pertumbuhan ekonomi yang mendatar hanya sekitar 5 persen. Padahal pada 2016 Filipina bisa tumbuh 6,8 persen dan Vietnam tumbuh 6,2 persen, jauh di atas Indonesia, dan pada 2017 ini mereka mentargetkan tumbuh di atas 6,5 persen, Indonesia hanya mentargetkan 5,1 persen.

Sampai saat ini, Darmin Nasution dan Sri Mulyani bahkan tidak punya konsep bagaimana caranya menggenjot pertumbuhan ekonomi. Sektor-sektor unggulan apakah yang akan menjadi fokusnya, di manakah kita bisa unggul dari negara-negara lain bila dilihat dari alamnya, budayanya, sumber daya alamnya, sumber daya manusianya, faktor-faktor ekonominya seperti rupiah yang lemah (kita harus mengambil keuntungan dari rupiah yang lemah) dan sebagainya. Kemudian bagaimana planning-nya dengan kondisi-kondisi yang ada itu semua?

Sri Mulyani sudah menjabat Menteri Keuangan selama satu tahun. Itu waktu yang sangat cukup untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan meletakkan dasar-dasar perubahan struktur ekonomi dari hanya mampu ekspor bahan mentah seperti CPO dan batubara menjadi ekspor hasil-hasil manufacturing seperti Vietnam yang ekspor tekstilnya mencapai USD 23,8 milyar, dua kali ekspor tekstil kita yang hanya USD 12 milyar. [***]  
 
Penulis adalah seorang analis


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA