Selama ini, metode pengajaran Pancasila di sekolah hanya hapalan dan tidak bertumpu pada penguatan realitas jatidiri bangsa.
"Praktisnya, dalam kehidupan kebangsaan hari ini tampak jelas makin banyak pemuda terjebak dengan hedonisme dan individualisme berlebihan, sehingga banyak sekali pemuda tidak peduli kondisi bangsa Indonesia," kata Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komite Pemuda Pelajar dan Mahasiswa, Herimanto, kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/5).
Menurut dia, situasi yang terjadi belakangan ini menggambarkan kaum muda tak peduli lagi masalah kebangsaan. Fenomena ini bisa disebut sebagai tanda-tanda minimnya kesadaran pemuda Indonesia.
"Arus informasi yang masuk melalui media komunikasi yang ada sekarang begitu gampang memecah belah dan menimbulkan ancaman di masyarakat kita," imbuhnya.
Komite Pemuda dan Mahasiswa GMNI menilai kelemahan anak muda ini disebabkan kegagalan pendidikan Pancasila, sejarah dan pendidikan agama pada institusi pendidikan di Indonesia.
Pendidikan yang diajarkan di institusi pendidikan cenderung bersifat hafalan bukan ranah aktual dan nyata pada masyarakat. Selain itu terus dibatasi pembagian waktu mengajar di sekolah-sekolah dan kampus.
"Padahal pemuda punya tenaga yang besar memajukan bangsa ini. Sehingga pemuda Indonesia menjadi lebih bijaksana menyikapi permasalahan bangsa karena bisa mengetahui jati dirinya sendiri sebagai sebuah bangsa," pungkasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: