Yunarto menegaskan hasil surveinya menempatkan elektabilitas pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno cenderung jalan ditempat jika dibandingkan dengan Pilkada putaran pertama. Sementara itu kata Yunarto, elektabilitas pasangan Basuki T Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat justru mampu unggul saat ini. Yunarto pun menjabarkan beberapa faktor dan hipotesa hasil surveinya itu.
"Hipotesanya yang pertamanya adalah faktor debat, kita uji di debat Mata Najwa memang kemudian Ahok-Djarot dianggap unggul dengan 58 persen melawan 34 persen," kata Yunarto usai merilis hasil survei di kantornya, Jakarta Selatan, Sabtu (15/4).
Kemudian dari sisi fakta persidangan penodaan agama, yang mana Ahok menjadi terdakwanya saksi-saksi yang meringankan calon gubernur petahana itu makin banyak.
"Sementara sebelumnya pada putaran pertama tidak ada saksi yang meringankan terlapor," imbuh Yunarto.
Faktor ketiga yang meningkatkan elektabilitas Ahok-Djarot adalah masuknya partai-partai pendukung dari koalisi Cikeas. Terutama PKB dan PPP.
Masuknya kedua partai itu kata Yunarto menurutnya seakan menjadi angin segar bagi Ahok-Djarot, dimana selain secara kuantitatif menambah mesin politik, tapi juga secara kualitatif sebagai simbolisasi bahwa pertentangan antara partai agama dan nasionalis yang muncul pada putaran pertama itu menjadi cair.
"Itu otomatis sangat berpengaruh positif bagi isu primordial dalam Pilkada DKI kali ini," tambah Yunarto.
Survei Charta Politika Indonesia merilis pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat mengungguli pasangan Anies Baswedan - Sandiaga Uno. Dimana 47,3 persen masyarakat Jakarta menyatakan pada tanggal 19 April nanti akan memilih pasangan Ahok-Djarot, sedangkan pasangan Anies - Sandi memperoleh 44,8 persen. Adapun responden yang belum menentukan pilihan sebanyak 7.9 persen.
[san]
BERITA TERKAIT: