Menurut Yunarto stagnan dalam surveinya adalah tidak adanya variabel baru yang mendongrak keterpilihan Anies-Sandi. Meskipun pada dasarnya, Partai Amanat Nasional (PAN) dari koalisi poros Cikeas bergabung.
"Mesin politik hanya PAN kecenderungan yang masuk dan kita lihat PAN juga tidak terlalu baik saat kita survei dibandingkan dengan gabungan dari PKB dan PPP,"jelas Yunarto usai merilis hasil survei di kantornya, Sabtu (15/4).
Kemudian menurut Yunarto ada beberapa blunder yang dilakukan pendukung Anies-Sandi yang menimbulkan sentimen di dalam sosial media dan masyarakat. Salah satunya terkait adanya dugaan bahwa pemilih Anies-Sandi telah mengusir Djarot di Masjid Attin beberapa waktu lalu.
"Lalu kemudian beberapa kasus yang menerpa Habib Rizieq yang dikait-kaitkan oleh beberapa pihak ke Anies-Sandi, itu terkait juga dengan masalah Pilkada yang memberatkan posisi Anies-Sandi," kata Yunarto.
Kemudian dalam hal program yang ditawarkan. Masyarakat menurut Yunarto biasanya melihat program pasangan calon kepala daerah dalam debat. Debat menurutnya menjadi faktor utama untuk meyakinkan atau kemudian tidak meyakinkan pemilih.
"Dalam debat, pertarungan isu yang kita lihat ramai. Misalkan KJP dengan KJP Plus, lalu kita lihat rumah dengan DP 0 persen. Masing-masing memiliki keunggulan tersendiri, Ahok-Djarot dianggap lebih unggul dalam konteks KJP dengan KJS. OK-OC memang menaikan Anies-Sandi tapi kemudian kan DP 0 persen dianggap malah negatif,"beber Yunarto.
Survei Charta Politika Indonesia merilis pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat mengungguli pasangan Anies Baswedan - Sandiaga Uno. Dimana 47,3 persen masyarakat Jakarta menyatakan pada tanggal 19 April nanti akan memilih pasangan Ahok-Djarot, sedangkan pasangan Anies - Sandi memperoleh 44,8 persen. Adapun responden yang belum menentukan pilihan sebanyak 7.9 persen.
[san]
BERITA TERKAIT: