Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga turut hadir bersama Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Anggota DPD RI sekaligus perwakilan Puri Agung A.A Ngurah Oka Ratmadi, Sesmenkop Agus Muharram, Ketua DPRD Denpasar I Gusti Ngurah Gede, Sekda Denpasar, para Kepala SKPD dan Badan se-Kota Denpasar, tokoh-tokoh masyarakat, pemerhati seni dan budaya, dan keluarga pahlawan nasional se-Bali.
Sarasehan yang menghadirkan dua pembicara utama, yakni Sejarawan I Gde Parimartha dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana I Dewa Gede Palguna, serta moderator Prof Dr Anak Agung Ngurah Anom Kumbara ini, bertujuan untuk mengingatkan kembali akan semangat perjuangan yang telah ditunjukan oleh para pahlawan bangsa khususnya mereka yang berasal dari Bali, sekaligus untuk mengingatkan pentingnya merawat NKRI melalui revitalisasi nilai-nilai pahlawan.
"Pahlawan nasional di Indonesia, Bali paling banyak makanya kami mengadakan seminar ini untuk mengingatkan kembali bahwa dalam mengisi kemerdekaan ini nilai-nilai pahlawan itu perlu dijaga dan mengingatkan pemerintah akan NKRI ini. Agar peka, jangan dibiarkan hancur. Adanya NKRI karena adanya kerajaan," ujar perwakilan Puri Agung, A.A Ngurah Oka Ratmad saat menyampaikan sambutan pembukaan di Graha Sewaka Dharma, Denpasar, Bali, Sabtu (24/12).
Dalam paparannya, sejarawan I Gde Parimartha mengatakan untuk merawat NKRI dalam merevitalisasi nilai-nilai pahlawan kita perlu menggali kembali sejarah kebangsaan, seperti apa tokoh-tokoh nasional mampu merajut pemikiran untuk menyatukan bangsa Indonesia dari beragam suku bangsa, etnis, budaya dan bahasa yang berbeda-beda.
"Tidak berpikir untuk berantakan kembali, inilah masalahnya. Perlu kebhinekaan kita, perlu kita pahami bersama untuk membangun kebersamaan, hidup bersama. Nilai pahlawan akan menunjang penggalian, revitalisasi falsafah bangsa, konsep bangsa Bhineka Tunggal Ika," papar Parimartha.
Sedangkan menurut, Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana I Dewa Gede Palguna, menambahkan dewasa ini pemahaman orang terhadap sejarah itu hanya sebatas pengetahuan saja, tetapi sulit untuk membentuk kepribadian. Padahal menurut dia, sejarah menjadi titik tolak untuk melangkah ke depan. Bila sejarah itu memberikan teladan, maka itu yang harus dipegang teguh oleh generasi muda.
"Menurut saya karena kita tidak pernah bersikap serius terhadap sejarah atau kita cuma membaca sejarah itu hanya sekedar membaca tapi kita tidak pernah menarik apa sih yang kita dapatkan dari sejarah itu, karena sejarah itu menurut saya jadi titik tolak ke depan kita akan melangkah ke mana," pungkas dia.
[ysa]