Gerindra Sindir Kubu Djan Faridz Carmuk Ke Jokowi

PPP Masih Konflik

Kamis, 13 Oktober 2016, 08:15 WIB
Gerindra Sindir Kubu Djan Faridz Carmuk Ke Jokowi
Jokowi dan Djan Faridz/Net
rmol news logo Langkah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Djan Faridz yang mendukung Ahok-Djarot tidak hanya mendapatkan kritikan dari internalnya sendiri. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) juga ikut mengkritik sikap PPP Djan Faridz.

Partai Gerindra malah men­duga keputusan PPP Djan Faridz mendukung Ahok karena ingin mencari muka (carmuk) ke Presiden Jokowi. "Saya menduga Djan Faridz ini lagi usaha untuk mendapatkan simpati dan dukun­gan Jokowi," kata Fadli di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.

Menurut Fadli, dengan situasi PPP yang sedang konflik dualisme kepengurusan, kubu Djan membutuhkan pengakuan dari pemerintah sebagai PPP yang sah karena selama ini hanya PPP Romy yang disahkan.

Jika saat ini, Jokowi mendukung Ahok di Pilgub DKI Jakarta. Oleh karena itu, Djan pun mendukung Ahok dengan harapan pihaknya mendapat pengakuan dari pemerintah. "Sebenarnya kasihan. Dia ini mungkin lagi merayu-rayu agar PPP-nya ini mendapatkan du­kungan," ucapnya.

Sindiran juga sempat da­tang dari pengamat politik dari Universitas Al Azhar Jakarta, Ujang Komarudin. Ujang menilai sikap PPP kubu Djan Faridz yang mendukung Ahok dinilai cuma untuk mencari sensasi dan nyari muka (nyarmuk) ke Jokowi.

Dikatakan dia, kubu Djan Faridz mengambil langkah ber­seberangan dengan PPP kubu Romahurmuziy justru semakin memperburuk citra PPP Djan Faridz. "Saya kita motifnya hanya mencari perhatian Jokowi saja, tidak lebih," katanya.

Karena jika dikalkulasikan dengan fatsun politik sangat berse­brangan dengan nilai-nilai partai berlambang kabah dan keisla­man. Akibat sikap Djan Cs, bisa jadi kader PPP diakar rumput semakin marah dengan sikap yang dilakukan oleh Djan.

"Kader bisa marah dan se­makin antipati dengan PPP Djan, efeknya Djan semakin ditinggalkan kadernya sendiri," ujar Ujang yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR).

Pasca gugatannya ditolak pengadilan, PPP Djan Faridz yang tidak dianggap sah oleh pemerintah memilih bergabung dengan koalisi partai-partai pendukung pemerintah yaitu PDIP, Hanura, Nasdem dan Golkar. Djan menegaskan bahwa keputusan mendukung Ahok diambil berdasarkan rapat pleno DPP PPP yang dilaksanakan 4 Oktober lalu.

Djan mengatakan pertimbanganini sesuai hasil silaturahmi nasional yang dihadiri se­luruh pengurus wilayah PPP se-Indonesia termasuk Ketua DPW DKI Jakarta, Abraham Lunggana alias Haji Lulung. Padahal selama ini Lulung ada­lah tokoh politik yang selalu bertentangan dengan Ahok. Tak jarang Lulung dan Ahok terlibat perang urat saraf yang sengit.

"Sikap DPW PPP untuk mem­pertimbangkan dan mendukung pasangan Ahok-Djarot dilandasi semata-mata untuk kemasla­hatan umat dan toleransi umat beragama. PPP sebagai partai besar ingin menjadi jembatan antar umat, saya lihat pasangan Ahok-Djarot ketika memimpin Jakarta, kepentingan-kepentin­gan umat Islam terpenuhi," kata Djan Faridz, di kantor DPP PPP, Jakarta. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA