Partai Gerindra malah menÂduga keputusan PPP Djan Faridz mendukung Ahok karena ingin mencari muka (carmuk) ke Presiden Jokowi. "Saya menduga Djan Faridz ini lagi usaha untuk mendapatkan simpati dan dukunÂgan Jokowi," kata Fadli di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.
Menurut Fadli, dengan situasi PPP yang sedang konflik dualisme kepengurusan, kubu Djan membutuhkan pengakuan dari pemerintah sebagai PPP yang sah karena selama ini hanya PPP Romy yang disahkan.
Jika saat ini, Jokowi mendukung Ahok di Pilgub DKI Jakarta. Oleh karena itu, Djan pun mendukung Ahok dengan harapan pihaknya mendapat pengakuan dari pemerintah. "Sebenarnya kasihan. Dia ini mungkin lagi merayu-rayu agar PPP-nya ini mendapatkan duÂkungan," ucapnya.
Sindiran juga sempat daÂtang dari pengamat politik dari Universitas Al Azhar Jakarta, Ujang Komarudin. Ujang menilai sikap PPP kubu Djan Faridz yang mendukung Ahok dinilai cuma untuk mencari sensasi dan nyari muka (nyarmuk) ke Jokowi.
Dikatakan dia, kubu Djan Faridz mengambil langkah berÂseberangan dengan PPP kubu Romahurmuziy justru semakin memperburuk citra PPP Djan Faridz. "Saya kita motifnya hanya mencari perhatian Jokowi saja, tidak lebih," katanya.
Karena jika dikalkulasikan dengan fatsun politik sangat berseÂbrangan dengan nilai-nilai partai berlambang kabah dan keislaÂman. Akibat sikap Djan Cs, bisa jadi kader PPP diakar rumput semakin marah dengan sikap yang dilakukan oleh Djan.
"Kader bisa marah dan seÂmakin antipati dengan PPP Djan, efeknya Djan semakin ditinggalkan kadernya sendiri," ujar Ujang yang juga Direktur Eksekutif
Indonesia Political Review (IPR).
Pasca gugatannya ditolak pengadilan, PPP Djan Faridz yang tidak dianggap sah oleh pemerintah memilih bergabung dengan koalisi partai-partai pendukung pemerintah yaitu PDIP, Hanura, Nasdem dan Golkar. Djan menegaskan bahwa keputusan mendukung Ahok diambil berdasarkan rapat pleno DPP PPP yang dilaksanakan 4 Oktober lalu.
Djan mengatakan pertimbanganini sesuai hasil silaturahmi nasional yang dihadiri seÂluruh pengurus wilayah PPP se-Indonesia termasuk Ketua DPW DKI Jakarta, Abraham Lunggana alias Haji Lulung. Padahal selama ini Lulung adaÂlah tokoh politik yang selalu bertentangan dengan Ahok. Tak jarang Lulung dan Ahok terlibat perang urat saraf yang sengit.
"Sikap DPW PPP untuk memÂpertimbangkan dan mendukung pasangan Ahok-Djarot dilandasi semata-mata untuk kemaslaÂhatan umat dan toleransi umat beragama. PPP sebagai partai besar ingin menjadi jembatan antar umat, saya lihat pasangan Ahok-Djarot ketika memimpin Jakarta, kepentingan-kepentinÂgan umat Islam terpenuhi," kata Djan Faridz, di kantor DPP PPP, Jakarta. ***
BERITA TERKAIT: