"Kita manusia Indonesia yang beradab. Sehingga dalam pesta demokrasi seperti pilkada pun, kita hendaknya senantiasa menjaga sikap toleransi dan tenggang rasa atau tepo seliro," jelasnya dalam siaran pers, Jumat (7/10).
Menurut Lukman, materi kampanye yang bersifat promotif atau mengajak akan menunjukkan tingginya kualitas bangsa Indonesia dalam berdemokrasi. Dengan dampak yang terasa lebih baik. Di mana, masyarakat bisa lebih jernih menilai visi misi yang ditawarkan pasangan calon sehingga lebih obyektif dalam menentukan pilihannya.
Dia mengakui jika isu suku, agama, ras dan antar golongan (Sara) sulit dihindari dalam ajang pilkada. Wajar jika ada orang memilih pasangan calon berdasarkan preferensi Sara.
"Di negara yang demokratis, setiap orang berhak menentukan pilihan sesuai pandangan, alasan, dan keyakinan masing-masing," beber Lukman.
Namun, hendaknya isu Sara terutama agama dapat dikemas secara lebih beradab agar tidak merusak keharmonisan sesama anak bangsa. Seperti memanipulasi tafsir ayat agama untuk menjelekkan calon tertentu merupakan tindakan yang rentan konflik. Pernyataan yang melecehkan, menista, atau menjelekkan isi ayat suci juga menandakan perbuatan tidak beradab. Untuk itu, dia mengingatkan pihak penyelenggara pilkada agar lebih peka terhadap penggunaan isu agama.
"Jika ada pelanggaran terkait soal ini, sebaiknya segera ditangani. Gejala yang dapat menurunkan kualitas Pilkada akibat konflik agama juga harus segera diantisipasi," tegas Lukman.
[wah]
BERITA TERKAIT: