Menurut Setya hal itu tidak lepas dari peran Presiden Jokowi. Ia salut dengan cara dan gaya Jokowi mampu meyakinkan Rodrigo Duterte yang dikenal sangat keras, apalagi terkait kepentingan rakyat dan bangsanya.
"(Duterte) khusus datang dan menjadikan Indonesia sebagai kunjungan pertamanya ke negara-negara di dunia usai terpilih menjadi Presiden Filipina, dengan salah satu agenda 'melobi' Pemerintah Indonesia agar membatalkan eksekusi mati warga negaranya, Marry Jane Veloso," kata Novanto dalam keterangan persnya.
Awalnya, ia mendengar kabar jika Rodrigo akan meminta pengampunan langsung kepada Presiden Jokowi 'dengan cara paling terhormat dan sopan' demi menyelamatkan Mary Jane. Alasan yang dipakainya adalah, di detik-detik terakhir eksekusi di Nusakambangan akhir April lalu, telah ditemukan fakta baru dalam kasus Mary Jane.
"Akan tetapi, Presiden Jokowi mampu meluluhkan kerasnya hati Rodrigo Duterte, bahkan mempersilakan pemerintah Indonesia menjalankan hukum terhadap salah satu warga yang tersangkut kasus narkoba," tuturnya.
Novanto mengaku sangat mengapresiasi Presiden Jokowi yang 'menyelesaikan masalah tanpa masalah' dalam persoalan ini. Sehingga, hubungan antara Indonesia dengan Filipina tetap baik. Buktinya, Rodrigo menyatakan bahwa Indonesia adalah sahabat paling strategis di Asean.
"Saya juga mengapresiasi Presiden Rodrigo Duterte karena dapat memahami dan menghormati kedaulatan hukum Indonesia," ujarnya.
Kepada masyarakat luas, Novanto mengajak untuk selalu waspada dan bersama-sama berperang melawan kejahatan narkoba. Sebab, narkoba sangat merusak terutama bagi generasi muda bangsa Indonesia.
"Perang melawan kejahatan narkoba memerlukan langkah extraordinary dan dukungan kita semua, termasuk memberikan hukuman berat bagi siapapun yang terlibat di dalamnya," ujarnya.
[wid]
BERITA TERKAIT: