Informasi yang beredar menyebutkan, ada rencana sementara kalangan internal PDIP menjemput Risma dan membawanya ke Jakarta beberapa hari lagi. Dalam arti memohon kesediaan Risma dicalonkan sebagai penantang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Sementara pendapat lain di kalangan internal PDIP masih meragukan kemampuan Risma melawan Ahok. Bagaimanapun juga, karakter medan tempur Surabaya tentulah berbeda dengan karakter Jakarta yang lebih pluralis dan keras.
Pertarungan di Jakarta juga melibatkan aktor-aktor super besar yang tak terbayangkan, ada dan sangat mempengaruhi namun tak tampak mata. Elektabilitas Risma di Jakarta yang masih sebatas di atas kertas diragukan mampu menaklukkan Ahok.
Sosok cagub yang diusung PDIP selain harus mampu menghadapi aktor-aktor tak kasat mata itu, juga harus bisa diterima oleh partai-parta politik lain. PDIP harus mau membuka diri dan mempertimbangkan berbagai alternatif dalam rangka membangun koalisi besar.
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pun sudah barang tentu menyadari persoalan ini. Bagi Mega, pertarungan politik sesungguhnya adalah pemilu dan pilpres di tahun 2019.
Kekeliruan dalam menentukan strategi menghadapi Pilkada Jakarta akan berpengaruh terhadap kemampuan PDIP bertarung di tahun 2019 itu.
Kalau PDIP memaksakan Risma tapi kemudian Risma kalah, maka itu berarti PDIP akan menelan pil yang teramat pahit, kalah di Jakarta dan kehilangan Surabaya juga Jawa Timur.
Kekalahan ganda di dua propinsi utama itu akan sangat merugikan PDIP dan membuat mimpi-mimpi besar di tahun 2019 kandas.
[rus]
BERITA TERKAIT: