Untuk mengangkat simpati publik maka Ahok bikin perang palsu. Perang palsu adalah perang yang dibikin terhadap ancaman-ancaman yang dipalsukan. Dulu misalnya, tentara Jepang menyamar dan meledakkan rel KA miliknya sendiri di Mukden, Mancuria.
Serangan itu dijadikan alasan Jepang untuk menyerbu dan menjajah Mancuria. Stalin melakukan hal yang sama yaitu membom desanya sendiri, Mainilla, untuk kemudian dijadikan alasan menyerbu Finlandia.
Perang palsu Ahok yang pertama adalah ketika dia melancarkan serangan kepada anggota dewan yang dituduhnya menitip projek di APBD. Ahok berapi-api menunjuk projek UPS sebagai contoh korupsi itu. Dalam proses hukum yang terungkap melakukan korupsi ternyata bawahan Ahok sendiri. Tidak ada anggota dewan menjadi tersangka.
Perang palsu Ahok yang kedua dilancarkan kepada Gerindra. Gerindra tidak punya masalah dengan Ahok, bahkan dia dipromosikan Gerindra menjadi wakil Jokowi. Tetapi Ahok tahu dia bisa dapat simpati Jokowi dan para pendukungnya kalau mau menginjak Gerindra.
Perang palsu Ahok yang ketiga adalah sesumbar hebat anti-partai (deparpolisasi). Di sini Ahok mau ambil simpati dari orang-orang yang kecewa kepada parpol. Kepada mereka Ahok lagi-lagi sesumbar mau kumpulkan dukungan sejuta orang dan maju sebagai independen. Kenyataannya palsu. Sejuta pendukung yang dia klaim tidak pernah diverifikasi. Ahok berbalik menyatakan akan maju dari partai.
Sekarang Ahok perang palsu lagi dengan mengangkat isu 'tidak cuti demi menyelamatkan APBD'. Kembali dia melontarkan tuduhan bahwa DPRD koruptor dan sedang mengincar APBD. Kalau dia tidak awasi maka APBD akan diisi oleh projek-projek titipan. Tuduhan tersebut telah terbukti palsu.
Dengan mengatakan hal itu, Ahok sesungguhnya menyatakan ketidak-percayaan kepada sistem e-budget, wakil gubernur, DPRD, partai-partai dan seluruh jajaran pemerintahannya sendiri. Seakan-akan semuanya tidak mampu bekerja, mengawasi, bermental maling. Ia menyatakan diri sebagai satu-satunya penyelamat. Ia juga mendeklarasikan diri sebagai superhero, satu-satunya orang yang dapat menyelesaikan semua masalah.
Ahok seharusnya menyadari bahwa satu-satunya masalah adalah dirinya sendiri. Ada arogansi
I am the chosen one pada dirinya. Lebih dari itu, saya mencium aroma 'kegilaan Nero' yang membakar Roma. Atau teriakan The Mad King, Aerys Targaryen, dalam Battle of Thrones, yang dalam kegilaan menganggap semua orang akan mengkhianati dirinya. [***]
Penulis adalah Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta)
BERITA TERKAIT: