Usul membangun perpusatakaan parlemen yang megah disampaikan oleh rombongan yang terdiri dari antara lain pendiri Freedom Institute Rizal Mallarangeng, ilmuwan sosial Ignas Kleden, pemikir Islam Ulil Abshar Abdalla, dan novelis Ayu Utami.
Direktur Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai rencana membangun perpustakaan itu sebagai akal-akalan DPR memainkan anggaran negara setelah sebelumnya rencana pembangunan gedung DPR (dengan anggaran Rp 570 miliar) ditolak oleh rakyat dan pemerintah dengan kebijakan moratorium.
"Setelah kedatangan cendekiawan, Akom seperti mendapat amunisi baru dan menjadi semangat lagi, serta mendapat akal-akalan baru untuk pembangunan gedung baru," kata Uchok.
"Tapi kali ini, judulnya bukan lagi gedung baru. Agar lebih intelektual, diwacanakan DPR mau bangun perpustakaan termegah se Asia agar mendapat dukungan dari publik," umbarnya.
Dia tegaskan Akom tidak konsisten dalam ucapannya. Baru saja dia menjanjikan moratorium pada beberapa waktu lalu, kini sikapnya berubah lagi dengan judul "perpustakaan" untuk mengelabui publik.
"Kalau publik setuju dan mendukung pembangunan peepustakaan, maka gedung lain yang baru, yang mewah dan megah akan dibangun DPR," jelasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: