Mereka mewakili petani yang menjadi korban perampasan tanah oleh perusahaan seperti Suku Anak Dalam (SAD), petani dusun Mekar Jaya (Sarolangun), petani Kunangan Jaya I dan II (Batanghari), dan petani Tanjung Jabung Timur.
"Jalan kaki akan dimulai Kamis besok (17/3)," kata Alif Kamal, koordinator aksi, dalam keterangannya kepada redaksi sesaat lalu.
Di Jakarta, para petani akan mendatangi Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, DPR RI, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Dalam Negeri, dan Istana Negara.
Kenapa harus berjalan kaki 1000 KM? Alif menjelaskan konflik agraria yang melilit para petani ini sudah berlangsung lama, bahkan ada yang sudah puluhan tahun tetapi tak kunjung selesai.
Konflik agraria yang dialami SAD, misalnya, terjadi sejak 1987. Konflik agraria petani Kunangan Jaya I dan II sudah sejak tahun 1970-an, sedangkan konflik agraria yang dialami petani Mekar Jaya terjadi sejak 1990-an.
"Padahal, berbagai jalan sudah ditempuh oleh petani untuk mengusahakan penyelesaian mulai dari negosiasi, aksi massa, hingga aksi pendudukan, namun tetap saja belum ada penyelesaian tuntas," kata dia.
Dikatakan lebih lanjut oleh Alif, petani memilih ke Jakarta sebagai tempat para pemangku kebijakan tertinggi di Republik ini.
"Petani berharap Presiden Jokowi bisa menuntaskan persoalan konflik agraria yang melilit mereka. Apalagi, pada saat kampanye Pilpres lalu, Jokowi berjanji akan menyelesaikan konflik agraria di Indonesia," kata Alif yang menyampaikan hari ini para petani melakukan unjuk rasa di Kantor Gubernur Jambi.
[dem]
BERITA TERKAIT: