MKD diminta fokus untuk mengungkap siapa sebenarnya yang memerintahkan pengusaha minyak, M. Reza Chalid dan Setya Novanto bertemu dengan bos Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.
"Dalam rekaman pembicaraan terucap bahwa pertemuan di Pacific Place adalah atas dasar pertemuan sebelumnya antara Novanto, Luhut Panjaitan dan Presiden di Surabaya. Apakah benar demikian? Apakah benar Luhut dan Jokowi terlibat? Atau itu semua hanya ucapan bohong dari Reza Chalid dan Novanto?" ujar
Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo), Bastian P Simanjuntak dalam keterangannya, sesaat lalu.
Selain itu, menurut Bastian, MKD harus menggali tentang peran 'Darmo' ke Novanto. Menteri ESDM Sudirman Said dalam talkshow di salah satu stasiun televisi menyebut keseharian Darmo adalah tukang ojek.
"Kalau tukang ojek, dia tidak mungkin ia bisa memanggil petinggi Freeport berkali-kali. Seberapa pentingkah peran Darmo? Apalagi dalam rekaman terdengar Darmo sangat dipercaya oleh Jokowi," kata Bastian lagi.
Lebih lanjut MKD juga perlu mendalami soal pertemuan tanggal 2 Juli 2015 antara Presiden Jokowi, Sudirman Said, Maroef Syamsudin, dan Jim Bob. Pendalaman, kata Bastian, apakah pertemuan itu sebagai tindak lanjut dari pertemuan 8 Juni 2015 di Pacific Place.
Terpenting lagi, kata Bastian, kasus skandal 'rekaman Freeport' harus dibuka selebar-lebarnya agar publik mengetahui kondisi sebenarnya kelakuan para elite yang ternyata tidak memikirkan kepentingan Bangsa dan Negara, melainkan lebih mementingkan kepentingan individu dan kelompok.
"Negara ini milik 250 jiwa bangsa Indonesia, sudah seharusnya dipimpin oleh seorang yang berjiwa patriot dan seorang bangsawan yang benar-benar mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Bukannya dipimpin oleh pedagang yang mencari keuntungan sebesar-besarnya," tukas Bastian.
[wid]
BERITA TERKAIT: