Pemerintah, Jangan Abaikan Anak-anak Tuna Grahita

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 16 September 2015, 16:31 WIB
Pemerintah, Jangan Abaikan Anak-anak Tuna Grahita
foto:net
rmol news logo Ketua Ikatan Isteri Fraksi Partai Golkar (IIFPG), Netty Komarudin meminta pemerintah memperhatikan anak-anak berkebutuhan khusus tuna grahita sebagaimana amanah pasal 34 UUD 1945.
 
"Masih ada anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan belaian kasih sayang. Ini yang harus diperhatikan pemerintah," kata Ketua Ketua IIFPG Netty Komarudin saat bakti sosial di panti sosial tuna grahita 'Belaian Kasih' di Jakarta, Rabu (16/9) seperti dikutip dari keterangan tertulisnya.

IIFPG melakukan bakti sosial dengan memberikan bantuan kepada anak-anak penghuni panti sosial tuna grahita. Selain Netty Komarudin turut hadir di antaranya Lenny Bambang Soesatyo, Lies Ferdiansyah, Lita azis syamsudin, Lisa Robert Kardinal, Letty Roem Kono, Lilis Agun Gunandjar, Nita Azis Kennedy, Enny Misbakun dan lainnya.

Netty merasa terharu atas sambutan anak-anak tuna grahita. Di sisi lain Netty juga mengucapkan terima kasih kepada para pengasuh panti yang telah dengan penuh kasih sayang mendedikasikan diri merawat anak-anak tuna grahita tersebut.

Sementara Kepala Panti Bina Grahita "Belaian Kasih", Ngapuli Perangin-angin menjelaskan, saat ini pantinya merawat 183 anak tuna grahita yang terdiri dari 120 laki-laki dan 63 perempuan. Panti ini tambah Ngapuli berada dibawah dinas sosial Pemda DKI Jakarta.

"Mereka mayoritas hasil penjangkauan di jalan raya. Daripada berkeliaran di jalanan, terlantar, diselamatkan ke panti ini," kata Ngapuli.

Lanjut Ngapuli, anak-anak tersebut berusia antara lima tahun sampai 25 tahun. Namun tambah dia, meskipun sudah berusia dewasa tetapi sikap mental masih anak-anak.

"Mereka ini lemah mental jadi perilaku seperti anak-anak. Apalagi ada 15 anak di antaranya yang berada di kursi roda, jadi total harus dibantu," jelasnya.

Ngapuli juga menyampaikan, saat ini di pantinya terdapat 53 tenaga yang dibagi dalam dua shif dan bekerja 24 jam. Sebetulnya keberadaan mereka di panti sosial merupakan jalan terakhir.

"Pengasuhan terbaik bagi anak-anak tuna grahita ini dalam keluarga. Karena itu kami buka pintu bagi anggota keluarga yang ingin mengambil anak mereka yang ada di panti ini," ungkapnya.

Selain mendapatkan perhatian, anak-anak penghuni panti ini juga diberikan pelatihan keterampilan cuci motor, ternak ayam, ikan lele dan sebagainya. Pemberian pelatihan keterampilan dimaksudkan agar nantinya mereka bisa mandiri.[wid]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA