
Kehadiran Ketua DPR RI, Setya Novanto dan rombongan dalam jumpa pers Donald Trump jangan dikecam. Bangsa Indonesia harus menyadari perilaku Setnov cs merupakan wajah elit politik kita hasil pemilu.
"Kita tidak perlu mengecam Setya Novanto atau Fadli Zon dengan kasus seperti itu. Kasus ini seperti pepatah mendulang air memercik air sendiri. Itulah wajah sesungguhnya dari para pemimpin bangsa yang kita pilih melalui sistem politik yang berlaku," ujar Pendeta Fu Kwet Khiong, pegiat kebangsaan, di Jakarta, Senin (7/9).
Sebagai pemilih, sebut Fu, bangsa ini harus ikut bertanggung jawab atas lahirnya pemimpin yang berperilaku koruptif, tidak memiliki kepekaan nasionalisme, dan tidak memperhatikan kebutuhan rakyat ataupun juga tidak memenuhi nilai-nilai budaya Indonesia.
"Kita harus mengambil pelajaran dari kasus ini. Jangan memilih pemimpin bangsa ataupun daerah yang memiliki kecenderungan "menggadaikan" negara ataupun daerahnya demi kepentingan kelompok, partai ataupun pribadi," ajak Pendeta Fu.
Pendeta Fu mengatakan jangan terlampau berharap bahwa para pemimpin bangsa meminta maaf atas kesalahan yang mereka perbuat.
"Jangankan minta maaf, merasa berasalahpun mereka tidak punya dan bahkan mencoba mencari alibi sebagai pembenar atas apa yang mereka perbuat. Yang lebih buruk lagi, tidak meminta maaf tetapi balik menyerang dengan pengalihan isu," ujar Pendeta Fu.
Para pemimpin bangsa ini, demikian Pendeta Fu menjelaskan lebih lanjut, sudah sampai pada batas tidak peduli terhadap bangsa dan negara.Nasionalisme yang senantiasa didengungkan para pemimpin bangsa hanyalah retorika belaka.
Menurut Pendeta Fu, Setya Novanto tidak sendirian. Perilaku sepertinya itu juga diperlihatkan oleh banyak para pemimpin bangsa yang mengaku nasionalismenya tak perlu diragukan tetapi justru melakukan penistaan dan penodaan atas nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendiri bangsa.
"Bagaimana kita bisa berharap bangsa Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan, jika para pemimpin bangsa tidak memberi contoh atau keteladanan dalam bersikap dan berperilaku. Kekacauan karena ketiadaan keteladanan sudah lama berlangsung di Indonesia," tukasnya.
[dem]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: