GEJOLAK GOLKAR

Mengapa Munas Ancol Layak Disebut "Luar Biasa"?

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Senin, 16 Maret 2015, 18:37 WIB
Mengapa Munas Ancol Layak Disebut "Luar Biasa"?
idrus marham/net
rmol news logo Buah dualisme internal Partai Golkar adalah dua Munas yang berbeda. Munas Bali (Aburizal Bakrie) hanya Munas yang biasa-biasa saja, sedangkan Munas Jakarta (Agung Laksono) adalah Munas luar biasa.

Mengapa Munas Jakarta luar biasa? Karena hanya manusia yang "luar biasa" yang bisa melakukan Munas tersebut.

Begitu kata Sekjen DPP Golkar kubu Aburizal Bakrie, Idrus Marham, saat konferensi pers di ruang fraksi Golkar, gedung DPR RI, Senayan, Jakarta (Senin, 16/3).

"Ada mandat yang ditandatangani orang yang sudah meninggal dunia. Ini kan hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu yang luar biasa. Kalau (Munas) di Bali hanya biasa-biasa saja, semua orang bisa lakukan," ujarnya.

Tidak hanya itu, lanjut Idrus, dalam Munas Ancol Jakarta juga terdapat tanda tangan oleh kader partai lain dalam surat mandat peserta.

Munas Ancol, lanjut Idrus, semakin luar biasa karena pada tanggal 15 Desember 2014 Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, mengeluarkan surat bahwa terdapat dualisme di Golkar, sehingga kedua Munas tidak bisa disahkan.

"Lebih luar biasa lagi, setelah kasusnya ditangani Mahkamah Partai Golkar, putusan Mahkamah Partai yang dijadikan dasar Menkumham berbeda dengan keputusan yang sebenarnya. Ini semua kan hanya bisa dilakukan orang yang luar biasa," lanjutnya.

Idrus mengatakan kronologi inilah yang berujung rencana hak angket DPR RI untuk Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly.

"Ini anatomi masalahnya. Makanya muncul hak angket, karena kita belum manusia luar biasa untuk menyelidiki itu," tegas koordinator pelaksana Koalisi Merah Putih ini. [ald]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA